Kenapa Muslim Harus Shalat ? (1)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Seseorang berkata kepada sahabatnya seraya  bercakap-cakap dengannya:

“Sungguh sangat mengherankan perkara yang ada pada dirimu, betapa keras tanggapanmu, alangkah banyak kritikanmu..!! Apakah engkau merasa heran apabila dua orang saling merekatkan bahu dan satu dalam kata, hingga salah satu dari mereka berharap jika sekiranya ia mampu menuangkan hatinya kepada yang lainnya, sementara yang lainnya berharap jika sekiranya ia mampu meletakkan ruhnya di tangan yang lainnya sebagai tebusan. Tahukah engkau siapa mereka itu..? Mereka adalah ayah dan anaknya. Ayah yang menaruh kasih sayang kepada anaknya dan anak yang berbakti kepada ayahnya.

Apakah hubungan yang sangat erat ini membuatmu takjub..?”

“Tentu saja -demi Allah-, apakah ada ikatan yang lebih mulia dari hubungan yang mengikat hati dan menyatukan perbedaan, serta menjadi bukti dalam mengenal karunia dan bersyukur atas segala nikmat..? Apakah mungkin seseorang bisa hidup di dunia ini tanpa adanya hubungan dengan keluarga, tetangga, sahabat ataupun teman..? Bukankah hidup bermasyarakat merupakan tabiat dan nalurinya..?”, kata sahabatnya.

Lalu ia berujar kepada sahabatnya, “Saya melihat engkau sangat memahami pentingnya nenjalin hubungan antar manusia atas dasar kasih sayang dan tolong menolong, serta pengikraran dalam kebaikan dan kebajikan”.

“Tentu saja,” tegas sahabatnya.

“Meskipun seseorang harus mengingkari kebaikan dan mendustakan karunia yang diberikan kepadanya..?!” bantahnya.

“Apakah seseorang akan tega melakukan hal tersebut sementara ia masih memiliki sedikit rasa malu dan rasa kemanusiaan dalam hatinya..?,” sahabatnya menimpali (tanpa dia sadari bahwa dialah orang yang dimaksud).

“Benar….dan kamulah orangnya,” tegasnya.

Emosi sang sahabatpun terbakar dan hampir melampiaskannya, namun ia mencoba untuk menahan dan memendam amarah dalam hatinya lalu bertanya, “Kenapa engkau berkata demikian..?”

“Karena engkau telah mengingkari karunia nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dianugerahkan kepadamu,” jawabnya.

“Apa maksud perkataanmu..?” tanya sang sahabat.

‘Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah zat yang memiliki segala anugerah dan karunia..?” ia balik bertanya.

“Benar….,” jawab sahabatnya.

“Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berhak untuk disyukuri atas semua itu..?” tanyanya lagi.

“Tentu  saja….,” serentak sahabatnya menjawab.

“Tahukah engkau bagaimana cara bersyukur kepadanya..?” ia kembali bertanya.

Sahabatnya pun terdiam sejenak seraya memutar pikiran, namun hal tersebut tidak segera membantu dan memberinya jawaban.

Sesaat kemudian sahabatnya menjawab, “Aku tidak tahu (dengan wajah yang tersipu-sipu malu)”.

Kembali sahabatnya pun terdiam dan berkata, “Ajarkanlah kepadaku cara yang dengannya aku bisa merealisasikan rasa syukurku kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ..!”

la lalu menjelaskan, “Ada dua cara dimana rasa syukur tidak mungkin dapat terealisasi melainkan dengan terpenuhinya dua cara tersebut”:

Pertama:

Engkau mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan segala bentuk kebaikan dan karuniaNya dari lubuk hatimu yang paling dalam, tidak cukup hanya dengan lisan saja. Dan hal tersebut dapat engkau buktikan dengan meletakkan wajahmu di atas hamparan bumi, sujud dan tunduk kepadaNya.

Kedua:

Senantiasa menjaga nikmat tersebut dan menggunakannya dalam hal-hal yang diridhaiNya.

Sahabatnya berkata, “Perkataanmu benar, mulai saat ini aku berjanji kepada Allah untuk tidak meninggalkan shalat selama aku masih hidup. Akan tetapi, aku memiliki seorang teman dekat yang sangat berarti bagiku, aku merasa bertanggung-jawab akan urusannya dalam shalat. Maukah engkau menuliskan beberapa patah kata mengenai permasalahan ini sehingga aku dapat menyampaikan hal tersebut kepadanya. Semoga dengan goresan tanganmu, Allah Subhanahu Wa Ta ‘ala memberikan hidayah kepadanya, sehingga dengan shalatnya ia bisa menyambung kembali hubungan yang sempat terputus antara dia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hal tersebut akan menjadi menjadi pahala yang lebih baik bagimu dari seekor unta merah[2].

“Dengan senang hati,” sahutnya.

la pun menuliskannya . . .

Teruntuk

Sahabat karibku . . .

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Sungguh aku telah mendengarkan untaian kata-kata yang sangat indah dan inginku membaginya denganmu melalui kata-kata yang terhampar di atas kertas putih ini. Aku berharap semoga untaian kata-kata ini mendapat tempat di relung hatimu sebagaimana ia telah meresap dalam jiwaku.

Wassalam.

Banyak orang di zaman modern ini mulai menganggap remeh perkara shalat. Mereka memandangnya tidak lain hanyalah sebagai beban yang sangat berat, dan apabila engkau mengingatkan mereka, serentak sebagian dari mereka mencari-cari alasan bahwasanya sekarang ia sedang disibukkan oleh perkara yang sangat penting, ada pula yang mengatakan bahwasanya pakaian yang ia pakai tidak suci dan tidak sah apabila di pakai untuk shalat, nanti apabila ia telah kembali, segera ia akan menggantinya dan melaksanakan shalat. Namun, pada hakikatnya ia hanyalah seorang pendusta dan sebagian lagi sadar akan kelalaiannya dan terus menerus mengulangi kata, “semoga Allah memberi hidayah kepada kami”. Namun ada sebagian orang yang tidak memiliki rasa malu dalam menampakkan perbuatan-perbuatan maksiat dan mengganti nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan kekufuran, bahkan mereka pun meremehkan shalat dan meremehkan pula orang-orang yang melaksanakan shalat, dalam keadaan mereka mengaku sebagai bagian dari kaum muslimin. Mereka ini tidak lain hanyalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala bergetar hati-hati mereka dikarenakan kebencian yang ada dalamnya dan apabila diseru kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala mereka mengatakan, Kami dengar dan kami ingkari…?!”

“Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan- akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari daripada singa.’’ (Al-Mudatsir: 49-51)

Wahai saudaraku…. Marilah bersama-sama kita memperbaiki keadaan orang-orang ini serta mencari sebab-sebab yang membuat mereka melalaikan shalat.

Apakah shalat hanya sebatas denda yang harus ditunaikan seseorang sebagaimana ia menunaikan denda-denda yang lain karena suatu kesalahan…?

Apakah shalat hanyalah sesuatu yang membuang-buang waktu, bukankah setiap orang memiliki kelebihan waktu dari aktifitasnya hingga akhirnya ia pun menyia-nyiakan kelebihan waktu tersebut?

Apakah shalat merupakan suatu paham filosofi yang memaksa seseorang untuk menganutnya, sebagaimana ia dipaksa harus menerima paham- paham politik di negara-negara diktator…?

Apakah shalat membatasi kebebasan mutlak seseorang dan melarang ia dari menjalankan kebebasan tersebut…?

Apakah shalat hanyalah sebatas perkara yang mubah-mubah saja, barang siapa yang ingin mengerjakan, maka ia boleh mengerjakan, namun tidak ada ganjaran apa-apa baginya. Dan barang siapa yang ingin meninggalkan, ia boleh meninggalkan dan tidak ada dosa baginya…?

Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala butuh kepada shalat kita…?

Faidah apa yang bisa didapat seseorang dari shalatnya…?

Kerugian apa yang akan menimpa orang-orang yang meninggalkan shalat…? dan apakah…? serta bagaimana…?

Pertanyaan yang sangat banyak mengalir dari benak setiap orang yang diakibatkan oleh hawa nafsu, jiwa kesetanan dan syahwat. Apabila pertanyaan ini tidak mampu dijawab, maka hal tersebut akan menjadi bumerang yang membuat mereka menjadi rendah dan hina serta dapat mendorong diri untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan keji yang ada dalam benak pikiran hingga mereka pun menyimpang.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan senantiasa menghiasi amalan-amalan buruk yang dikerjakan, sehingga mereka memandang keburukan itu sebagai suatu kebaikan, membenarkan pemikiran-pemikiran yang sesat dan mereka berpegang teguh dengan pemikiran tersebut lalu menjerumuskan diri ke dalam perdebatan-perdebatan yang sengit, sampai mereka berangan-angan jauh hingga mengantarkan mereka ke dalam api neraka yang jaraknya hanya bisa di tempuh dengan tujuh puluh tahun perjalanan sementara ia tidak menyadari hal tersebut.

Akan tetapi apabila ia dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan baik dan mampu mematahkan segala macam bentuk syubhat (kerancuan), dan mampu mempergunakan akal serta logika, maka ia telah berhasil mengalahkan syubhat tersebut, sehingga pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi padam dan sirna.

Maka mari kita mulai menjelaskan kerancuan pertanyaan-pertanyaan tersebut satu per satu, lalu kemudian menjawab dengan jawaban yang tidak meninggalkan keraguan bagi orang-orang yang ragu. Dan barangsiapa yang yang berpaling setelah datang jawaban dari keraguan tersebut, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.

PERTAMA: SHALAT TIDAKLAH SERUPA DENDA YANG HARUS DIBAYARKAN ATAU PAJAK YANG HARUS DITUNAIKAN

Wahai saudaraku……. shalat tidaklah serupa denda yang harus dibayarkan atau pajak yang harus ditunaikan, akan tetapi shalat hanyalah amanah yang senantiasa dijaga oleh orang yang mengembannya lima waktu dalam sehari, sehingga hal tersebut akan menjadi bukti bagimu dalam menunaikan kejujuran, keikhlasan, dan menjaga hak-haknya. Dengan shalat engkau akan mendapatkan balasan yang baik apabila engkau menjaga dengan sebaik-baiknya.

Demikian adanya, shalat bukanlah pajak, denda, atau upeti. Akan tetapi, shalat hanyalah sebagai bentuk realisasi dari mengenal kebenaran dan mensyukuri segala kebaikan. Sebagai dalil yang menunjukan kesucian jiwa dengan mentaati para pemimpin dan melaksanakan perintah- perintah mereka, serta sebagai penjelasan akan kecenderungan hati berupa kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan pengagungan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tidakkah engkau perhatikan, orang-orang yang dalam hati mereka mengagungkan hal-hal yang dianggap memiliki kekuatan lebih dan bisa memberikan kebaikan baginya. Mereka meminta perlindungan disaat tertimpa musibah, memohon pertolongan disaat-saat genting, mencari barokah dalam kondisi-kondisi tertentu, bahkan menjadikan hal-hal yang dianggap memiliki kekuatan tersebut sebagai syi’ar (simbol) yang mengingatkan mereka tatkala lalai darinya.

Apa yang membuat orang-orang nasrani menuhankan Nabi Isa..? menjadikan salib sebagai syi’ar yang diletakkan di atas gereja-gereja dan di atas dada-dada mereka, serta berlomba-lomba menuju gereja untuk melaksanakan ibadah..?

Apa yang membuat orang-orang yahudi menuhankan Uzair –maha suci Allah dari apa- apa yang mereka persekutukan-, berkumpul di sekeliling kuburan yang dihiasi dengan cahaya lilin seraya beribadah dan membaca taurat..? Apa pula yang membuat orang-orang fundamentalis di antara mereka mengambil topi kecil dan meletakkannya diatas ubun-ubun..? Dan mengapa tatkala berdirinya kedaulatan mereka di Palestina, mereka bersepakat untuk menjadikan lambang bintang enam sebagai syi’ar mereka..?

Apa yang membuat orang-orang majusi  menyembah api..? Apa yang membuat sekte-sekte di India menyembah sapi dan kera..? dan apa yang membuat kelompok-kelompok bathiniah[3] menyembah setan..?

Orang-orang ini, semuanya menyembah dan mengagungkan sesembahan-sesembahan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka beribadah serta mendekatkan diri kepadanya, padahal semua sesembahan-sesembahan tersebut adalah bathil sebagaimana pemikiran-pemikiran mereka yang tidak waras. Sesembahan-sesembahan itu tidaklah mampu memberikan kebaikan bagi mereka dan tidak pula menolak keburukan yang menimpa mereka. Namun dengan demikian engkau tidak mengingkari ibadah yang mereka lakukan dan selalu mengoreksi shalat yang aku kerjakan yang sangat jelas kebenaran, keagungan dan manfaatnya..?

Manfaat apa yang bisa diperoleh oleh orang- orang ini dari peribadatan-peribadatan mereka yang berbeda-beda..?

Kebaikan apa yang bisa diberikan oleh sesembahan-sesembahan itu kepada mereka..?

Apakah sesembahan-sesembahan itu mampu mengabulkan do’a mereka..?

Apakah sesembahan-sesembahan itu memahami kata-kata yang mereka ucapkan..?

Apakah sesembahan-sesembahan itu mengetahui apa-apa yang baik bagi mereka dan apa-apa yang buruk bagi mereka ..?

Apakah sesembahan-sesembahan itu yang memberikan mereka rezeki..?

Apakah sesembahan-sesembahan itu yang menghidupkan mereka..?

Apakah sesembahan-sesembahan itu yang menyembuhkan mereka..?

Apakah sesembahan-sesembahan itu mampu menghindarkan mereka dari mara bahaya..?

Apakah sesembahan-sesembahan itu mampu menurunkan hujan yang dengannya ia menumbuhkan sawah dan ladang..?

Tidak sama sekali…!!! Sesembahan- sesembahan itu tidaklah mampu untuk melakukan hal-hal tersebut. Namun demikian, mereka masih saja terus menyembah dan meyakini kesucian dan dan keutamaan sesembahan-sesembahan dalam lubuk hati mereka, serta merealisasikan hal tersebut dengan ibadah-ibadah yang mereka serahkan sesembahan-sesembahan tersebut.

Wahai saudaraku, apa pendapatmu apabila seseorang yang memberimu sebuah permen, membantu mengangkatkan barang-barangmu, menunjukimu jalan, membantu mendorongkan mobilmu yang sedang mogok, atau membantu mengambilkan barangmu yang terjatuh…? Bukankah engkau akan mengatakan kepadanya, “Terima kasih” dan engkau akan memuliakannya dalam hatimu serta menghargai apa yang telah ia lakukan…? Lebih dari itu engkau berharap kalau bisa membalas perbuatan baiknya itu dengan sesuatu yang lebih baik darinya..?

Tentu saja… Aku adalah manusia biasa sepertimu, senantiasa menjaga kebajikan, berikrar dengan kebaikan, menghargai pemberian, bersyukur atas hadiah yang diberikan. Dan setiap kali pemberian itu lebih besar, maka rasa syukur dariku atas hal tersebut akan lebih besar pula. Namun apakah ada zat yang mampu memberikan karunia dan nikmat kepadaku sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menganugerahkan kepadaku akal dan panca indera…? Yang telah melapangkan rezeki yang baik bagiku, mengkaruniakan kepadaku rasa sehat dan afiat, menunjukkan kepadaku agama yang benar, menganugerahkan kepadaku keluarga dan anak-anak, serta menempatkanku di negeri yang sentosa yang dikelilingi sahabat-sahabat yang baik dan tetangga yang ramah..?

Tidak sama sekali…!!! Tidak ada satu zat pun di alam ini yang mampu memberikan kebaikan kepadaku sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan kebaikanNya kepadaku. Maka tidak patutkah aku bersyukur atas segala limpahan nikmat ini, sebagaimana aku berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberikan kepadaku hal-hal yang jauh lebih kecil dari nikmat-nikmat tersebut..? Aku yakin engkau pasti sepakat denganku dalam hal ini, bahkan engkau akan selalu memberikan motivasi kepadaku untuk melakukannya. Lebih dari itu, engkau akan memaksaku untuk melakukannya apabila aku menyepelekan hal tersebut. Karena engkau tidak menginginkanku menjadi orang yang tidak mensyukuri pemberian atau mengingkari kebaikan.

Pada hakikatnya rasa syukur akan diberikan setimpal dengan nilai pemberian atau orang yang memberikan pemberian tersebut. Maka rasa syukur yang aku persembahkan kepada orang yang memberiku sebuah permen akan berbeda dengan orang yang memberiku satu kaleng permen.

Begitu pula perkataanku kepada anak kecil yang mengambil pena yang terjatuh dari tanganku akan berbeda dengan perkataanku kepada orang dewasa  yang mengambilnya. Wujud kesyukuran yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala nikmat-nikmatNya yang telah diberikan kepadaku adalah tatkala aku meletakkan wajahku di atas hamparan bumi sebagai bentuk pengikraran terhadap sifat rububiyahNya[4], pensucian terhadap sifat uluhiyahNya[5], serta sebagai bentuk pengenalan (pengakuan, ed) terhadap segala nikmat-nikmatNya.

Sebagian manusia menundukkan diri-diri mereka dihadapan thaghut[6] berupa patung-patung yang pada hakikatnya benda-benda tersebut tidaklahmampu memberikan manfaat kepada mereka. Bahkan sebaliknya, patung-patung itulah yang telah menyesatkan mereka dari petunjuk dan kebenaran. Sebagian yang lainnya tunduk di hadapan atasan-atasannya sebagai bentuk  pengagungan dan penghormatan kepadanya, padahal perbuatan tersebut dapat mengantarkan mereka menjadi seburuk-buruk makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka mengapa aku tidak tunduk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Raja di atas para raja, pencipta seluruh apa yang ada di alam semesta ini, Rabb pemilik langit dan bumi, zat yang bisa memberikan kebaikan dan menjauhkan dari segala musibah, zat yang kuasa untuk memberi atau menahan rezeki, zat yang mampu menghidupkan dan mematikan, serta zat yang kuasa menghisab hal-hal yang sangat kecil meskipun hanya setebal kulit ari..?

________________________

2 Hal ini disandarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad” bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “demi Allah kalau seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui tanganmu, hal itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah’’. Dan unta merah adalah harta yang paling berharga dikalangan orang-orang arab waktu itu.

3 Kelompok bathiniah adalah suatu kelompok yang lebih mendahulukan kata hati dari aturan-aturan syariat.

4 Pengingkaran terhadap sifat rububiyah Allah maksudnya; menyakini bahwa Allah adalah pencipta, raja dan yang mengatur seluruh alam semesta.

5 Pengingkaran terhadap sifat uluhiyah maksudnya; menyerahkan segala macam bentuk ibadah hanya kepada Allah dan tidak kepada selainNya.

6 Yang dimaksud dengan thoghut adalah: iblis, orang yang disembah dan ia ridho dengan penyembahan tersebut, orang yang menyeru manusia untuk menyembah dirinya, orang yang mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib, orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, dan yang semisal dengannya.

[Dari: Limadza Usholli; Penulis: Asy-Syaikh Abdur Rauf al-Hanawi; Pengantar: Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz Rahimahullah; Edisi Indonesia: Kenapa Saya Harus Shalat…?!; Penerjemah: Mohamad Nursamsul Kamar; Penerbit: Al-Hikmah Media]

Posted on Oktober 13, 2012, in Kenapa Shalat? and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: