Kenapa Muslim Harus Shalat ? (5)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

KELIMA: SHALAT BUKANLAH SUATU PERKARA YANG MUBAH

Shalat bukanlah suatu perkara yang mubah sebagaimana perkara dalam mencari nafkah, barangsiapa ingin melaksanakannya tidak ada pahala baginya dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya tidak ada dosa baginya.

Akan tetapi shalat adalah perkara yang harus dan wajib. Memiliki waktu-waktu yang khusus, bentuk-bentuk tersendiri dan tata cara yang telah ditetapkan. Engkau tidak memiliki wewenang sedikitpun dalam menambah atau menguranginya, tidak pula mendahulukan atau mengakhirkannya. Shalat ibarat satu suapan yang masuk lewat mulut dan tidak lewat telinga atau udara yang masuk ke paru-paru melalui mulut atau hidung dan tidak melalui telapak kaki. Oleh karena itu, apabila engkau memiliki ide dalam mengembangkan dan mengempiskan jantungmu atau melapangkan dan menyempitkan paru-parumu, barulah engkau boleh memiliki ide dalam perkara shalat.

Melaksanakan shalat adalah sebagaimana engkau melaksanakan tugas-tugas kantormu apabila engkau seorang pegawai atau sebagaimana engkau menyelesaikan perdaganganmu apabila engkau seorang pedagang. Jika engkau terus konsisten dalam melaksanakan pekerjaanmu dan senantiasa menyelesaikan tugas-tugasmu maka engkau akan mendapatkan ganjarannya diakhir bulan dengan mengambil gajimu atau memenuhi saku bajumu dengan keuntungan. Akan tetapi, apabila engkau alpa dari pekerjaanmu dan melalaikan tugas-tugasmu, maka gajimu akan dipotong sesuai dengan jumlah alpamu dan kelalaianmu dalam menyelesaikan tugas-tugasmu. Sesaat engkau pun merugi setelah sebelumnya engkau telah mengharapkan keuntungan.

Kebanyakan yang dilakukan seseorang dalam memandang hal-hal yang mubah seperti halnya ia memandang hal-hal yang wajib. Tidakkah engkau perhatikan kalau seandainya engkau sengaja mengeraskan suara radio di tengah malam hingga menyebar dengan suara yang sangat tinggi atau bernyanyi dengan meninggikan suara yang memenuhi tenggorokan, maka niscaya para tetangga akan merasa terganggu dan memarahimu bahkan para penjaga malam akan datang dan menggedor-gedor pintu untuk menyuruhmu segera mematikan radio dan mengecilkan suaramu, kalaulah tidak demikian niscaya engkau akan mendapatkan akibatnya.

Bukankah mendengarkan radio adalah perkara yang mubah dan engkau boleh mendengarkannya kapan saja engkau mau dan dengan cara apa saja yang engkau kehendaki..? Kalau begitu mengapa engkau batasi kebebasanmu..?

Jawabannya, “Engkau terikat dengan aturan-aturan yang khusus ataupun yang umum dan tidak boleh melanggarnya. Lebih-lebih lagi dengan hal-hal yang telah Allah wajibkan atas hamba- hambaNya yang beriman dengan sifat uluhiyah dan rububiyahNya. Dan mereka ridha terhadap syari’at dan agamaNya. Apakah mereka ini bebas dalam melaksanakan ibadah dan shalat kepadaNya ataukah terikat dengan perintah-perintahNya yang mewajibkan mereka untuk melaksanakannya..?”

[Dari: Limadza Usholli; Penulis: Asy-Syaikh Abdur Rauf al-Hanawi; Pengantar: Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz Rahimahullah; Edisi Indonesia: Kenapa Saya Harus Shalat…?!; Penerjemah: Mohamad Nursamsul Kamar; Penerbit: Al-Hikmah Media]

Posted on November 12, 2012, in Kenapa Shalat? and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: