Kenapa Muslim Harus Shalat ? (6)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

KEENAM: SHALAT ADALAH KEBUTUHAN YANG SANGAT POKOK YANG DIBUTUHKAN SESEORANG DALAM HIDUPNYA SEBAGAIMANA IA MEMBUTUHKAN MAKANAN DAN MINUMAN

 Tentu saja… dan shalat adalah kebutuhan yang sangat pokok yang dibutuhkan seseorang dalam hidupnya sebagaimana ia membutuhkan makanan dan minuman.

Hal ini disebabkan karena makanan dan minuman adalah zat pembangun bagi tubuh dan sebagai suplemen kehidupan, adapun shalat adalah zat pembangun bagi ruh dan sebagai suplemen ketenangan yang mengangkat orang-orang yang melaksanakannya dari perkara-perkara yang hina, sehingga ia pun akan terus konsisten dalam segala urusannya sebagaimana ia terus konsisten di hadapan Rabbnya ketika shalat.

Shalat adalah batasan yang membatasi seseorang dari keimanan dan kekafiran. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits :

“Pembatas antara keimanan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” [12]

Lalu sumbangsih apa yang bisa diharapkan oleh Islam dari orang-orang yang mengaku bahwa mereka bagian dari kaum muslimin kalau ternyata mereka menyelisihi aturan-aturannya..? Bukankah mereka tidak lain seperti anak durhaka yang serupa nasab dengan keluarganya namun berbeda dalam akhlaknya..? Apakah mungkin kebaikan bisa diharapkan dari orang yang tidak menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri..?

Kita kaum muslimin tidak ingin menjadi seperti buih yang diombang-ambingkan oleh air bah. Jumlah kita berjuta-juta namun orang yang soleh tidak lebih dari sepersepuluhnya. Satu senapan yang berisi penuh peluru aktif yang dengannya kita membunuh musuh lebih baik dibanding berpuluh-puluh senjata namun tidak berisi peluru. Dan apakah mungkin seribu pasak bisa menegakkan suatu tenda kalaulah ia tidak memiliki tiang penyangga di tengahnya..? Sedangkan tiang agama Islam adalah shalat.

Shalat adalah kebutuhan yang sangat pokok yang dibutuhkan oleh seseorang, karena shalat dapat memperindah akhlak dan memperbaiki tabiatnya, menjadi tameng penghalang baginya dari jerat-jerat kerusakan dan kesesatan, serta mencegahnya dari perbuatan yang keji dan munkar.

Bagaimana mungkin seseorang akan melakukan suatu kemaksiatan sementara ia mengetahui bahwasanya sesaat lagi ia akan berdiri dihadapan Rabbnya yang maha mulia lagi maha tinggi, dan Rabbnya tidak akan menerima apa yang ia lakukan tersebut melainkan hati, jiwa dan anggota tubuhnya dalam keadaan suci..? Tidakkah engkau perhatikan bagaimana kebanyakan kaum muslimin meninggalkan khamr[13] tatkala turun firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berbunyi:

“Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk”. (An-Nisa: 43)

Bagaimana mungkin mereka mengerjakan shalat sementara mereka masih dalam keadaan berlumuran dosa khamr padahal mereka harus mengerjakannya..? Karena shalat senantiasa berulang sebanyak lima kali sehari semalam, maka mereka pun serentak meninggalkan khamr secara keseluruhan agar selalu berada dalam keadaan siap untuk berdiri di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wahai saudaraku…Shalat ibarat timbangan yang dengannya seseorang menimbang amalan-amalan yang telah ia lakukan di antara dua shalat sebagaimana seorang dokter yang mengukur suhu badan seorang pasien dari waktu ke waktu. Dan apabila amalan-amalan itu baik maka ia akan berkata kepadanya: “Pertahankan dan teruslah maju”, akan tetapi apabila amalan yang dilakukannya buruk maka ia akan mengatakan kepadanya: “Kembali dan teruslah konsisten”. Maka apabila ia mendengar seruar adzan (Allahu Akbar), ia pun segera melihat kondisinya dan sadar bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala jauh lebih besar dari apa yang sedang ia lakukan, sehingga ia pun segera bangkit dari urusan dunianya dan memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang melaksanakan shalat adalah orang yang bisa diharapkan darinya kebaikan dan sikap konsisten, walaupun terkadang engkau melihat di sebagian kegiatannya dalam keadaan menyimpang karena pasti suatu saat shalatnya akan meluruskannya kembali dari penyimpangan tersebut. Hal itu disebabkan karena ia selalu membaca Al-Qur’an dalam shalatnya. Meskipun terkadang ia lalai dari menghayatinya, pasti akan datang kepadanya suatu masa dimana ia mampu menghayati dan mentadabburi makna dari apa yang ia baca sehingga bergetarlah hatinya dan benih-benih kebaikan yang ada pada dirinya tumbuh subur kembali. Sebagaimana hal ini diperkuat oleh firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berbunyi:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar“. (Al-Ankabut: 45)

Sebaliknya, orang yang tidak melaksanakan shalat, ia tidak akan membaca al-quran dan tidak pula mengambil manfaat darinya sedikitpun, lebih-lebih lagi ia hanya akan terus berjalan dalam belaian kesesatan dan mabuk dalam dosa-dosa yang ia lakukan.

____________________

12 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’

13 Kata khamr mencakup seluruh minuman yang memabukkan

[Dari: Limadza Usholli; Penulis: Asy-Syaikh Abdur Rauf al-Hanawi; Pengantar: Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz Rahimahullah; Edisi Indonesia: Kenapa Saya Harus Shalat…?!; Penerjemah: Mohamad Nursamsul Kamar; Penerbit: Al-Hikmah Media]

Posted on November 12, 2012, in Kenapa Shalat? and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: