Kenapa Muslim Harus Shalat ? (7)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

KETUJUH: ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA TIDAKLAH BUTUH DENGAN SHALAT YANG KITA KERJAKAN

Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidaklah butuh dengan shalat yang kita kerjakan. Akan tetapi, kitalah yang butuh untuk shalat kepadaNya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah zat yang maha kaya di atas segala makhluk ciptaanNya. Dan semua makhluk ciptaanNya butuh kepadaNya.

“Wahai sekalian manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah”. (Fathir 15-17)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menciptakan mereka, lahir dalam keadaan telanjang tanpa alas kaki, dalam keadaan telapak tangan yang tidak berisi sesuatu apapun, dalam keadaan tubuh yang lemah, akal yang kaku yang tidak bisa membedakan antara biji kurma atau biji kerikil, dalam keadaan tidak mampu memberi kebaikan atau mencegah mara bahaya dari diri-diri mereka sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun memberikan makanan, kekuatan, kesehatan, akal, kekayaan, menundukkan langit dan bumi untuk mereka dan memberikan segala macam nikmatnya baik yang terlihat ataupun yang tidak terlihat oleh mata.

Apakah setelah semua pemberian yang melimpah ini –dan dialah raja di atas segala raja serta di tanganNyalah segala perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi– (apakah Allah- Subhanahu Wa Ta’ala-) masih merasa butuh kepada shalat yang kita lakukan..?

Sama sekali tidak!!

Akan tetapi shalatlah yang menjadi bukti jelas akan kecintaan kita kepadaNya, rasa terima kasih atas segala karuniaNya serta rasa syukur akan segala nikmatNya.

Sesungguhnya orang-orang yang meremehkan shalat ini telah diberi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala berbagai macam kenikmatan sebagaimana yang diberikan kepada kita bahkan terkadang mereka diberi kenikmatan jauh lebih melimpah. Akan tetapi kita bersyukur atas segala nikmat tersebut sedang mereka mengingkarinya seolah-olah lupa akan hari ketika ia dilahirkan, hari dimana ia tidak memiliki sesuatu apapun. Dan lalai akan hari ketika ia berjumpa dengan kematian, hari dimana ia meninggalkan segala sesuatu yang telah ia kumpulkan untuk ahli warisnya, agar mereka bersenang-senang dengannya dan mereka akan dihisab atas semua itu, padahal mereka telah lancang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan enggan untuk beribadah kepadaNya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Ghafir: 60)

Wahai orang yang meninggalkan shalat… Kenapa engkau memaksakan diri untuk memeluk agama Islam kalau memang engkau tidak butuh dengannya..? Lalu kenapa engkau tidak melaksanakan shalat kalau memang engkau yakin dengannya..? Apakah engkau benci apabila ada yang mengatakan: “engkau adalah hamba yang taat dan takut kepada Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-,.?” Ataukah engkau lebih senang apabila ada yang mengatakan: “engkau adalah orang yang fasik dan menentang Allah -Subhanahu Wa ‘Ta’ala-..?” Bagaimana mungkin engkau mentaati perintah-perintah pemimpinmu sementara engkau menentang perintah-perintah Allah –Subhanahu Wa Ta’ala-..? Apakah pemimpin-pemimpinmu lebih tinggi kekuasaannya dan lebih mulia urusannya di sisimu dibanding Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa..? Tentu saja Allah lebih tinggi dan lebih mulia.

Suatu ketika Husain bin Ubaid –RadhiyAllahu ‘Anhu– menemui Rasulullah –Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam– sambil mencela dan mengancamnya dikarenakan tindakan Rasulullah –Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam– dalam menentang orang- orang kafir Quraisy serta sikap Beliau dalam meremehkan angan-angan mereka dan mencela sesembahan-sesembahan mereka, maka Nabi –Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam– memberikan penjelasan kepadanya dan membantah kata-katanya yang bathil dengan kata-kata yang benar. la pun patuh dan beriman, padahal sebelumnya hatinya sangatlah keras dan jauh lebih keras daripada sebuah batu. Nabi –Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam– bertanya kepadanya: “Wahai Husain, berapa banyak tuhan yang engkau sembah?” la menjawab: “tujuh di permukaan bumi dan satu di atas langit”. Lalu Nabi –Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam– bertanya lagi: “Apabila engkau tertimpa musibah kepada siapa engkau berdo’a?” la menjawab: “Yang berada di atas langit”. Maka Nabi –Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam– bersabda: “Hanya ia saja yang mampu mengabulkan do’amu, lalu engkau menyekutukannya dengan yang lain? Wahai Husain masuk Islamlah engkau! Niscaya engkau akan selamat”. [14]

Aku nasehatkan kepadamu wahai orang yang meninggalkan shalat, yang lalai dari zat yang selalu mengawasimu dan lupa dari apa-apa yang telah menantimu: Shalatlah! Niscaya engkau akan selamat dari siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sangat pedih. Dan sungguh sangat memalukan apabila engkau memohon kepadanya di waktu sulit, namun melupakannya di waktu senang.

_______________________

14 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’

[Dari: Limadza Usholli; Penulis: Asy-Syaikh Abdur Rauf al-Hanawi; Pengantar: Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz Rahimahullah; Edisi Indonesia: Kenapa Saya Harus Shalat…?!; Penerjemah: Mohamad Nursamsul Kamar; Penerbit: Al-Hikmah Media]

Posted on November 20, 2012, in Kenapa Shalat? and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: