Inilah Rahasia Shalat (1)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

PASAL

Membandingkan antara rasa dari nyanyian dengan rasa dari shalat dan Al Qur’an; menjelaskan bahwa rasa yang ada pada salah satu dari kedua hal tersebut berbeda dengan rasa yang ada pada yang lainnya dan bahwasanya setiap kali rasa yang ada pada salah satunya menguat maka rasa dan kekuatan yang ada pada yang lainnya akan menjadi lemah.

Maka ketahuilah bahwasanya shalat -tanpa diragukan- merupakan penyejuk hati orang-orang yang cinta kepada Allah, kelezatan bagi ruh para ahli tauhid, tamannya para ahli ibadah, batu ujian bagi keadaan-keadaanya orang-orang yang jujur dan timbangan bagi keadaan-keadaan orang-orang yang berjalan kepada Allah. Dan shalat merupakan rahmat Allah yang dihadiahkan kepada hamba-Nya yang beriman.

Allah menunjuki hamba-Nya yang beriman kepada shalat, mengenalkan kemudian menghadiahkannya kepada mereka melalui tangan rasul-Nya yang jujur dan terpercaya sebagai bentuk kasih sayang dan pemuliaan kepada mereka agar dengannya diperoleh kemuliaan-Nya dan keberuntungan melalui pendekatan diri kepada-Nya dengan ibadah tersebut, bukan karena Allah membutuhkan [amalan] mereka, tetapi bahkan sebagai suatu anugerah dan karunia bagi mereka. Dengan shalat, hati dan anggota badan hamba secara bersamaan beribadah kepada Allah, dan orang yang arif menjadikan peran hati (di dalam shalat) lebih sempurna dan lebih besar daripada peran anggota badannya. Adapun peran hati adalah menghadap Rabb-nya Yang Maha Suci, merasakan kegembiraan dan kelezatan dengan mendekatkan diri kepadanya, merasa nikmat dengan kecintaan kepadanya, merasa bahagia dengan berdiri di hadapan-Nya dan meninggalkan – ketika berdiri beribadah menghadap kepada-Nya- perhatian kepada selain yang diibadahinya serta menyempurnakan hak-hak peribadatan kepada-Nya lahir-batin sehingga dia menunaikannya sesuai dengan cara yang diridhai Rabb-Nya yang Maha Suci.

Karena Allah yang Maha Suci menguji hamba-Nya dengan syahwat dan yang semisalnya dari dalam dan luarnya, maka kesempurnaan rahmat dan kebaikan-Nya menuntut agar Dia mempersiapkan bagi hamba itu sebuah perjamuan yang sungguh telah menghimpun berbagai jenis hidangan, hadiah-hadiah, harta pilihan, pemberian-pemberian, dan Dia mengundangnya untuk menghadiri hidangan tersebut lima kali dalam sehari. Dan Dia telah menjadikan kelezatan, kemanfaatan, kemaslahatan dan ketentraman pada setiap jenis dari jenis-jenis hidangan tersebut yang tidak didapati pada jenis hidangan yang lainnya, agar kelezatan yang dirasakan hamba pada setiap jenis dari jenis-jenis peribadatan menjadi sempurna. Dan Dia memuliakannya dengan berbagai bentuk pemuliaan dan menjadikan setiap perbuatan ibadahnya sebagai penghapus kejelekan yang tidak disukainya di hadapan-Nya, kemudian Dia menggantikan kejelekan itu dengan cahaya yang khusus. Maka sesungguhnya shalat itu adalah cahaya dan kekuatan bagi hati dan anggota badannya, melapangkan rizkinya, dan membuat para hamba mencintainya, dan para malaikat merasa senang begitu juga bumi, gunung-gunung beserta sungai-sungainya semuanya menjadi cahaya baginya dan untuknya pahala yang khusus di hari Pertemuan dengan-Nya.

Kemudian beranjaklah tamu undangan tadi dari perjamuan tersebut dalam keadaan kenyang dan hilang dahaganya dan Dia melepaskannya dengan pelepasan yang baik dan memberikannya kepuasan. Sebelum menghadiri perjamuan tadi hatinya itu sungguh telah ditimpa kelaparan, kekeringan, kemarau, kehausan, ketelanjangan dan kesakitan. Tetapi kemudian dia keluar dari- Nya dalam keadaan dicukupi dan diberikan makanan, minuman, pakaian dan hadiah-hadiah yang mencukupi.

Dikarenakan kekeringan berturut-turut melanda hati, dan kegersangan jiwa datang silih berganti menimpanya, maka Allah mengundangnya kembali kepada perjamuan-Nya waktu demi waktu sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Maka senantiasa hati itu dalam keadaan mengharapkan tuangan air dari-Nya, meminta kepada Dzat yang di tangan-Nya-lah hujan dan minuman untuknya berada, mengharapkan kedatangan awan rahmat-Nya agar jangan sampai tumbuhan iman dan rerumputan ihsan serta buahnya yang telah ditumbuhkan oleh rahmat-Nya berubah menjadi kering, dan agar unsur kehidupan yang ada berupa ruh dan hati tidak mengalami kematian. Demikianlah keadaan hati, senantiasa mengharapkan tuangan air dan turunnya hujan dan mengeluhkan kepada Rabb-nya tentang kekeringan, kegersangan dan kebutuhannya akan air rahmat-Nya serta hujan kebaikan-Nya. Begitulah keadaan hamba sepanjang hidupnya.

Kelalaian merupakan kekeringan yang melanda hati, dan hujan rahmat-Nya akan turun kepada hatinya bagaikan air hujan yang turun terus menerus selama hamba tersebut berzikir dan menghadap kepada-Nya. Dan manakala ia lalai, maka kekeringan akan menimpanya sesuai dengan kadar kelalainnya. Maka jika kelalainnya menguat dan mengokoh padanya, maka buminya akan menjadi rusak kemudian mati; tetumbuhannya menjadi tidak berdaun dan mengering, sehingga syahwat akan menyerang bumi tersebut dari segala penjuru laksana angin panas.

Maka jadilah bumi tadi rusak setelah sebelumnya subur dengan berbagai macam tetumbuhan, buah-buahan dan yang lainnya. Dan jika hujan rahmat-Nya menyiram bumi tersebut, maka bumi keimanan dan amal shalih akan bergerak hidup kemudian menjadi subur kembali; [dan hujan tersebut] menumbuhkan berbagai jenis tanaman yang indah dipandang. Apabila kemarau dan kekeringan kembali melanda bumi tersebut, maka hati hamba tersebut ibarat sebuah pohon dari sisi kesegaran, kehijauan, kelenturan dan buahnya ketika mendapatkan sentuhan air, manakala ia tidak mendapatkan air, maka akar pohon tersebut menjadi layu, ranting-rantingnya mengering dan buahnya tidak muncul. Terkadang pohon dan rantingnya, keduanya mengering. Kalau engkau tarik ranting pohon tersebut, maka ia tidak lentur, kaku kemudian patah. Dalam keadaan seperti itu, kebijakan pengurus kebun memutuskan supaya pohon tersebut dipotong dan dijadikan bahan bakar api.

Maka demikian pula hati hamba, akan mengering manakala kosong dari tauhidullah, kecintaan, pengenalan, kosong dari dari mengingat dan berdoa kepada-Nya. Maka di saat itu, panas nafsu dan api syahwat akan menerpanya sehingga cabang-cabang anggota tubuhnya tidak lagi lentur ketika engkau menariknya, dan tidak mau taat ketika engkau mengajaknya, sehingga anggota badan dan pohon yang seperti ini selayaknya dilemparkan ke dalam api.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Az Zumar: 22)

Manakala hati tersebut dihujani dengan rahmat, maka ranting-rantingnya menjadi lentur dan segar. Jika engkau mengajaknya kepada perintah Allah, maka ia akan segera mentaati dan menghadap kepada ajakanmu. Maka engkau dapat menuai buah-buah peribadatan dari pohon tersebut, yang terdapat pada setiap ranting dari ranting-rantingnya dan [menuai] dari unsur kehidupan pohon tersebut berupa kesegaran dan kebugaran hati. Dan unsur tadi bekerja pada hati dan anggota tubuh, dan ketika hati mengering maka ranting-rantingnya terkatung-katung dari amal kebaikan; karena unsur dan kehidupan hati telah terputus darinya dan terhenti penyebarannya pada anggota badan. Dan setiap anggota badan itu bertanggung jawab untuk membuahkan peribadatan, dan Allah berhak mendapatkan peribadatan yang khusus dan ketaatan yang dituntut dari setiap anggota tubuhnya yang karenanya ia diciptakan dan dipersiapkan.

Dan manusia itu terbagi kepada tiga golongan:

Pertama: adalah golongan yang mempergunakan anggota tubuhnya untuk tujuan dari penciptaan dirinya dan apa yang dikehendaki darinya, maka golongan ini adalah pedagang yang berjual beli dengan Allah dengan perniagaan yang sangat menguntungkan, dan dia menjual dirinya kepada Allah dengan penjualan yang sangat menguntungkan. Dan shalat disyariatkan agar seluruh anggota tubuh dipergunakan untuk beribadah kepada-Nya dengan mengikuti ibadah hati. Dan inilah orang yang mengenali nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya berupa anggota tubuh dan yang lainnya. Maka dia menegakkan peribadatan kepada-Nya secara lahir dan batinnya, mempergunakan anggota tubuhnya untuk menaati Rabb-nya, dan dia memelihara diri dan anggota badannya dari perkara yang membuat-Nya marah dan membuat dirinya jelek disisi-Nya.

Kedua: adalah golongan yang menggunakan anggota tubuhnya menyelisihi tujuan dari penciptaan dirinya, bahkan dia mengurung anggota tubuhnya di dalam penyimpangan dan kemaksiatan, dia tidak mau membebaskannya, maka inilah orang yang usahanya rugi, perniagaannya bangkrut, tidak mendapatkan ridha dan besarnya pahala disisi-Nya, dan perdagangannya pailit, bahkan dia mendapatkan kemurkaan dan azab-Nya.

Ketiga: adalah golongan yang menelantarkan dan mematikan anggota tubuhnya dengan kesia-siaan dan kebodohan. Maka golongan ini juga merugi dengan kerugian yang lebih besar dari golongan sebelumnya, karena sesungguhnya tidaklah hamba itu diciptakan melainkan supaya melakukan ibadah dan ketaatan bukan untuk melakukan perbuatan yang sia-sia. Dan makhluk yang paling dibenci oleh Allah adalah yang paling banyak berbuat kesia-siaan (tidak mau menyibukkan diri untuk dunia juga tidak mau berusaha untuk akheratnya), bahkan dia menjadi beban bagi dunia dan agamanya, (bahkan seandainya dia hanya bekerja untuk dunianya saja dengan mengabaikan akheratnya maka dia tercela dan terhina. Terlebih lagi jika dia mengabaikan dua perkara tersebut semuanya. Dan sesungguhnya orang yang hanya mengejar kepentingan dunia saja dengan melalaikan kepentingan akheratnya, pastilah ia merugi).

Golongan yang pertama ibarat seseorang yang diberi sebidang tanah yang luas, difasilitasi dengan berbagai sarana untuk mengolah tanah tersebut berupa alat-alat bercocok tanam, bibit-bibitnya dipersiapkan, dan pengairan bagi ladangnya dimudahkan. Kemudian mulailah dia membajaknya, bersiap- siap untuk bercocok tanam, kemudian menebarkan berbagai macam benih padanya, menanaminya dengan berbagai jenis pepohonan dan buah-buahan yang beraneka ragam. Kemudian dia membentengi ladangnya dengan pagar, kemudian tidak menelantarkannya bahkan ia giat mengurus dan menjaganya dari kerusakan dan para perusak. Dan dia terus menjaganya setiap hari, memperbaiki apa yang telah rusak, mengganti tanaman yang telah kering, membersihkannya dari belukar-belukar dan memotong duri-durinya kemudian ia mempergunakan hasilnya untuk memakmurkan ladangnya.

Golongan yang kedua ibarat seseorang yang menerima sebidang tanah tadi kemudian dia menjadikannya sebagai sarang bagi binatang buas dan singa; sebagai tempat bagi bangkai- bangkaidan benda-benda busuk, juga sebagai tempat bercokolnya setiap para perusak, penggangu dan pencuri. Dan dia mengambil sarana berupa pengolahan tanah, benih-benih dan kesuburan tanah tersebut, kemudian dipalingkan dan dipakainya untuk menolong dan menghidupi para penjahat dan perusak yang ada di dalamnya.

Golongan yang ketiga ibarat seseorang yang menelantarkan dan mengabaikan sebidang tanah tadi. Dia mengalirkan air -yang telah dipersiapkan untuk berladang- ke tanah tandus yang tak berpohon dan ke padang pasir, kemudian dia duduk terhina dan menyesal. Maka ini adalah permisalan tentang orang yang sadar, yang lalai dan yang khianat.

Yang pertama adalah permisalan bagi orang yang sadar dan siap untuk melaksanakan tujuan dari penciptaan, yang kedua adalah permisalan bagi seorang penghianat, sedangkan yang ketiga adalah permisalan bagi orang yang lalai.

Golongan yang pertama, jika dia bergerak, diam, berdiri, duduk, makan, minum, tidur, berpakaian, berbicara atau diam, maka semuanya itu dinilai kebaikan baginya. Dia senantiasa di dalam dzikir, ketaatan dan kedekatan kepada Allah serta dalam kebaikan yang bertambah.

Dangolongan yang kedua, jika dia berbuat, maka perbuatannya dinilai kejelekan baginya. Dia senantiasa dalam keadaan terusir, terasingkan dan merugi.

Golongan yang ketiga, jika dia berbuat, maka perbuatannya dinilai sebagai bentuk kelalaian, kesia-siaan dan pengabaian.

Maka golongan yang pertama, seluruh gerak-geriknya dinilai sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah.

Dan golongan yang kedua, seluruh gerak-geriknya dihukumi sebagai bentuk pengkhianatan dan perbuatan melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidaklah memberikan kepadanya pemberian-pemberian untuk menyelisihi-Nya. Maka sungguh dia adalah orang yang jahat, melampaui batas dan berkhianat kepada Allah atas nikmat-Nya yang dianugerahkan kepadanya. Sehingga dia berhak untuk diazab karena menggunakan nikmatan-Nya bukan untuk ketaatan kepada-Nya.

Sedangkan golongan yang ketiga, gerak-geriknya dihukumi sebagai bentuk kelalaian, mengikuti keinginan hawa nafsu dan keinginan jiwa serta tabiatnya. Dia tidak menikmati karunia Allah untuk mencari keridhaan-Nya dan mendekatan diri kepada-Nya. Dan kerugian golongan ini sangat jelas karena dia telah menyia-nyiakan waktu-waktu dari umurnya yang tidak bernilai sehingga dia terlewatkan dari keuntungan dan perniagaan yang paling sempurna.

Dan Allah mengundang hamba-Nya yang beriman dan bertauhid untuk menghadiri shalat lima waktu sebagai bentuk kasih sayang-Nya terhadapnya. Dan Dia telah mempersiapkan beragam ibadah di dalam shalat tersebut agar hamba mendapatkan bagian dari pemberian-Nya melalui setiap ucapan, perbuatan, gerakan dan diamnya [yang dilakukannya di dalam shalat].

Adapun rahasia dan inti shalat adalah menghadapnya hati kepada Allah dan kehadirannya yang penuh di hadapan-Nya. Sehingga, manakala hati tidak menghadap kepada-Nya, sibuk dengan selain-Nya dan terlena dengan bisikan jiwanya, maka di saat itu hati hamba ibarat seorang utusan yang datang menuju pintu Raja dalam keadaan meminta maaf atas kesalahan dan kekeliruannya, mengharapkan kemurahan dan kedermawanan- Nya, mengharapkan makanan untuk hatinya supaya dapat berkhidmat kepada-Nya dengan kuat. Tatkala utusan tersebut telahsampaididepanpintuRajauntuk mengu tarakan kebutuhan- kebutuhannya, tiba-tiba dia berpaling dari-Nya, menengok ke kanan dan ke kiri atau membelakangi-Nya, menyibukkan diri dengan perkara yang paling dibenci oleh Raja, tidak memuliakan- Nya, menjadikan perkara tersebut sebagai kiblat dan arahnya yang diutamakan. Maka Raja tersebut hendak mengutus para pelayan dan pembantu-Nya yang lain untuk menggantikan pelayanannya kepada Raja, tetapi Dia menyaksikan hal itu dan mengetahui keadaan utusan tersebut jika posisinya digantikan oleh yang lain. Maka kemurahan hati Raja dan keluasan kasih sayang-Nya membuat-Nya enggan untuk memalingkannya dari berkhidmat kepada-Nya, sehingga utusan tersebut pun akhirnya mendapatkan juga kasih sayang dan kebaikan-Nya, Akan tetapi tetap saja berbeda antara orang yang mendapatkan bagian ghanimah (harta rampasan perang) dengan yang hanya mendapatkan pemberian yang sedikit karena tidak ada jatah baginya,

“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.” (Al Ahqaf: 19)

Dan Allah telah menciptakan jenis manusia kemudian dikhususkan untuk diri-Nya sebagaimana disebutkan dalam atsar ilahi,

“Wahai anak Adam, Aku telah menciptakanmu untuk diri-Ku dan Aku menciptakan segala sesuatu untuk kamu maka karena hak-Ku terhadapmu maka janganlah apa yang Aku ciptakan untukmu menyibukkanmu dari apa yang karenanya Aku ciptakan kamu (yakni menyibukkanmu dari Allah -ed).” [1]

Dan di dalam atsar yang lain,

“Wahai anak Adam! Aku menciptakanmu untuk diri-Ku, maka janganlah kamu bermain- main danAku telah menanggung rizkimu maka janganlah kamu melelahkan dirimu. Wahai anak Adam mintalah kepada-Ku maka kamu akan mendapati-Ku, maka jika engkau telah mendapati-Ku maka engkau akan mendapati segala sesuatu, dan hendaklah Aku lebih engkau cintai dari segala sesuatu!’’ [2]

Dan Allah menjadikan shalat sebagai sebab yang mengantarkan seseorang kepada kedekatan, bermunajat (berbicara dengan suara lirih kepada yang diajak bicara karena begitu dekat posisinya) dan cinta kepada-Nya serta damai dengan-Nya.

(Kelalaian yang Terjadi pada Jeda Waktu di antara Satu Shalat dengan Shalat yang Lainnya)

Dan perkara-perkara yang menimpa hamba pada senggang waktu antara satu shalat dengan shalat yang lainnya berupa kelalaian, kekakuan, kegersangan, keberpalingan, ketergelinciran dan dosa-dosa, adalah membuatnya jauh dari Rabb-nya dan memalingkannya dari kedekatan kepada-Nya. Sehingga dia seperti orang yang asing dari peribadatan kepada-Nya, seolah-olah dia tidak tergolong kepada para hamba-Nya. Dan terkadang dia menyerahkan dirinya ke penjara musuh, kemudian musuh tersebut menahan, membelenggu dan mengikatnya dalam penjara hawa nafsu.

Akhirnya, kesempitan dada, kegelisahan, kesusahan dan kesedihan pun merundunginya tanpa diketahui sebabnya. Dan karena kasih sayang Rabb-nya yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka Dia menyiapkan satu peribadatan untuknya yang mencakup dan beragam bagian-bagian dan keadaan-keadaannya sesuai dengan kejadian-kejadian yang dialami hamba dan sesuai dengan kebutuhannya yang mendesak akan bagian dari setiap kebaikan yang ada pada bagian-bagian dari peribadatan tersebut.

___________________________

1 Atsar ini disebutkan Ibnul Qayim pada karangan-karangan beliau. Beliau menyebutkannya di dalam Thariqul Hijratain 73/367, dan di dalam Raudhatul Muhibbin 304. Dan disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah seperti di dalam Majmu’ Fatawa I/23 dan di dalam Al Munawi sebagaimana di dalam Faidhul Qadir 11/304.

2 Atsar ini disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam Tafsir-nya IV/239 dan ia berkata, “Dan di dalam kitab-kitab ilahiyah.” Dan disebutkan oleh Ibnul Qayim di dalam Ad Da’u Wad Dawa’u 141, di dalam Thariqul Hijratain 83,367 di dalam Al Munawi dan Faidhul Qadir IV/305. Dan semuanya menyandarkannya kepada khabar atau atsar ilahi sebagai isyarat bahwasanya itu adalah berasat dari israiliyat dan kedua atsar terdahulu tersebut adalah shahihul ma’na.

[Dari: Asraarush Shalaah; Penulis: Syaikhul Islam Ibnul Qayim Al Jauziah; Penyunting: Syaikh Iyaadh Al Qaisi; Edisi Indonesia: Tamasya Indah Seputar Shalat Menyibak Rahasia Keindahan, Keagungan dan Urgensi Shalat; Penerjemah: Ustadz Abdul Hamid Al Mujuri; Penerbit: el Fouz Publishing]

Posted on November 21, 2012, in Rahasia Shalat and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: