Inilah Rahasia Shalat (2)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

(PEMBICARAAN SEKITAR WUDHU)

Dengan wudhu, seorang hamba tersucikan dari segala kotoran, sehingga dia menghadap kepada Rabb-nya dalam keadaan suci. Dan wudhu memiliki makna lahir dan batin.

Makna lahir dari wudhu itu adalah kesucian badan dan anggota-anggota wudhu.

Adapun makna batin dan rahasianya adalah kesucian hati dari kotoran-kotoran dan noda-noda dosa serta kemaksiatan dengan cara bertaubat. Oleh karena itu Allah menggandengkan antara taubat dengan bersuci pada firman-Nya,

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al Baqarah: 222)

Dan Nabi mensyariatkan bagi orang yang selesai berwudhu untuk membaca tasyahud kemudian membaca doa,

“Ya Allah, jadikanlah diriku termasuk kepada orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah diriku termasuk orang-orang yang menyucikan diri.”

Maka Allah menyempurnakan untuknya tingkatan-tingkatan peribadatan dan tingkatan bersuci secara lahir batinnya. Sesungguhnya dengan syahadat, seorang hamba tersucikan dari kesyirikan, dengan taubat ia tersucikan dari dosa-dosa dan dengan air ia tersucikan dari kotoran-kotoran yang lahir.

Dan Allah mensyariatkan baginya tingkatan bersuci yang paling sempurna, sebelum ia masuk untuk menemui-Nya dan berdiri dihadapan-Nya, (maka ketika lahir batinnya telah suci maka ia diizinkan untuk masuk berdiri dihadapan-Nya). Dengan ini seorang hamba terbebas dari pelarian.

Dengan masuknya seorang hamba ke dalam rumah dan tempat beribadah kepada-Nya, maka masuklah dia ke dalam golongan para hamba-Nya. Oleh karena itu, berangkat ke masjid merupakan kesempurnaan ibadah shalat yang hukumnya wajib menurut satu pendapat para ulama dan mustahab menurut pendapat para ulama yang lain.

Dan seorang hamba ketika dalam keadaan lalai, dia seperti seorang pelarian yang lari dari Rabb-nya, karena telah menyia-nyiakan anggota tubuh dan hatinya dari berkhidmat kepada Allah yang karenanya ia diciptakan. Sehingga, jika ia kembali menemui Allah, berarti dia telah kembali dari pelariannya, kemudian jika dia berdiri menghadap-Nya dalam posisi ibadah, menghinakan dan merendahkan diri di hadapan-Nya, maka hal itu akan mengundang belas kasih-Nya dan membuat-Nya perhatian kepadanya setelah sebelumnya Dia berpaling darinya.

(PERIBADATAN TAKBIR)

Dan dia diperintahkan untuk menghadapkan wajahnya ke arah kiblat (rumah-Nya yang mulia) agar terlepas dari semua keberpalingan yang ada pada dirinya. Kemudian dia berdiri di hadapan-Nya dalam keadaan rendah diri, tunduk, merasa butuh, mengharap belas kasih-Nya, menerima, pasrah, menundukkan kepala, khusyu hatinya, menundukkan pandangannya, hatinya tidak berpaling dari-Nya walau sekejap, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, khusyu dan sepenuh hati menghadap kepada-Nya. Dan sepenuh jiwa raga dia menghadap kepada-Nya, kemudian membesarkan-Nya dengan pengagungan dan pemuliaan, dan hatinya selaras dengan lisannya ketika ia bertakbir, dan Allah adalah yang paling besar di hatinya dari segala sesuatu, dan takbirnya ini dibenarkan dengan tidak adanya sesuatu yang lebih besar dalam hatinya daripada Allah, yang dapat melalaikannya dari-Nya. Sungguh jika ada dalam hatinya perkara yang menyibukkan dirinya dari Allah, maka hal itu menunjukkan bahwa perkara tersebut di sisinya lebih besar dan lebih penting daripada Allah. Sehingga ucapannya Allahu Akbar hanya di lisan saja, karena sebenarnya hatinya menghadap, mengagungkan dan memuliakan selain-Nya. Apabila hati selaras dengan lisan ketika bertakbir, maka terlepaslah dia dari pakaian kesombongan yang meniadakan peribadatan dan berpalingnya hati kepada selain-Nya, karena Allah adalah yang paling besar pada diri dan hatinya. Sehingga ucapan dan penegakan peribadatan takbir yang benar itu akan mencegahnya dari dua penyakit ini (kesombongan dan keberpalingan) yang keduanya merupakan penghalang yang paling besar yang menghalangi seorang hamba dari Rabb-nya yang Maha Suci.

 

(PERIBADATAN ISTIFTAH)

Kemudian apabila dia membaca,

“Maha Suci dan Maha Terpuji Engkau, wahai Allah.”

Dan dia memuji Allah yang pantas untuk dipuji, maka sungguh dengan sebab pujian itu dia telah keluar dari kelalaian dan dari golongan orang-orang yang lalai. Sesungguhnya kelalaian adalah tabir yang menutupi antara seorang hamba dengan Allah.

Kemudian dia membaca do’a istiftah dan pujian-pujian yang dengannya seorang raja diajak berbicara ketika seseorang masuk menemuinya sebagai bentuk pengagungan dan pembukaan. Dan yang demikian merupakan pemuliaan dan pendahuluan sebelum dia mengutarakan kebutuhan-kebutuhannya.

Memanjatkan pujian-pujian termasuk adab di dalam peribadatan dan merupakan bentuk pengagungan terhadap yang diibadahi, yang karenanya perhatian dan keridhaan Allah serta kebutuhannya dapat diperoleh dengan sebab karunia-Nya.

 

(KEADAAN SEORANG HAMBA KETIKA DIA MEMBACA AL QUR’AN DAN ISTI’ADZAH)

Ketika seorang hamba hendak membaca Al Qur’an, dia memulainya dengan ber-isti’adzah (meminta perlindungan) kepada Allah dari syetan yang terkutuk, karena sesungguhnya syetan sangat bersemangat untuk merendahkan seorang hamba ketika hamba tersebut berada pada kedudukan yang paling mulia dan bermanfaat bagi dunia dan akheratnya ini, sehingga syetan sangat giat untuk dapat memalingkannya dari kedudukan yang mulia ini dan sangat giat untuk menghalangi badan dan hatinya untuk dapat mengambil kemanfaatan dari bacaan Al Qur’an. Manakala syetan tidak sanggup untuk memutus dan melalaikan anggota badannya, maka dia berusaha untuk memutus dan melalaikan hatinya, dan dia melemparkan perasaan was-was kepadanya, sehingga karenanya seorang hamba tersibukan dari menunaikan hak peribadatan di hadapan Rabb-nya. Oleh karena itu Allah memerintahkan hamba-Nya untuk meminta perlindungan kepada-Nya dari syetan agar kedudukannya yang mulia di hadapan-Nya terselamatkan, dan agar hatinya hidup dan bersinar dengan merenungkan dan memahami firman Allah, Tuan-nya, yang hal itu merupakan sebab bagi kehidupan hatinya dan sebab untuk mendapatkan kenikmatan dan kesuksesan. Oleh karena itu syetan sangat bersemangat untuk menghalangi hatinya dari merenungi dan memahami bacaan Al Qur’an.

Karena Allah mengetahui kedengkian musuh (yaitu syetan) terhadap sang hamba, mengetahui kesungguhannya untuk menggodanya dan mengetahui kelemahan hambanya untuk menolak gangguannya, maka Dia memerintahkan hamba-Nya untuk meminta perlindungan kepada-Nya agar Dia mengusir musuhnya. Sehingga dengan berlindung kepada-Nya, seorang hamba tidak perlu menyusahkan diri untuk memerangi dan melawannya, seolah dikatakan kepada hamba, “Kamu tidak akan sanggup untuk melawan musuh ini, maka berlindunglah kamu kepada-Ku, niscaya Aku lindungi dan selamatkan kamu darinya.“

 

(NASEHAT IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH KEPADA IBNU QAYIM RAHIMAHULLAH)

Syaikhul Islam lbnu Taimiyah –semoga Allah mensucikan ruhnya dan menerangi kuburannya- suatu hari pernah berkata kepadaku,

“Jika anjing-anjing penjaga kambing mengganggu engkau, maka janganlah engkau tersibukkan untuk melawan dan mengusirnya. Akan tetapi carilah olehmu penggembalanya, kemudian mintalah bantuannya, niscaya dia akan menyingkirkan anjing-anjing tadi darimu dan menyelamatkanmu dari gangguannya.”

Maka seorang hamba jika dia meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan syetan yang terkutuk, niscaya Dia akan menjauhkan syetan itu darinya.

Hati itu [hendaknya] berupaya menggapai makna-makna Al Qur’an, memasuki taman-tamannya yang indah, menyaksikan keajaiban-keajaibannya yang menyilaukan akal, mengeluarkan perbendaharaan-perbendaharan dan simpanan-simpanannya yang belum pernah disaksikan oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah telintas pada hati manusia. Tidak lain, yang menghalangi hati dari semua itu hanyalah jiwanya dan syetan. Sesungguhnya jiwa itu sangat mudah terpengaruh, mendengarkan dan mentaati syetan. Dan tatkala syetan itu jauh dan diusir dari jiwanya, maka malaikat akan masuk kepada jiwanya kemudian mengokohkan dan mengingatkannya kepada perkara-perkara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keselamatan baginya.

Kemudian, ketika seorang hamba mulai membaca Al Qur’an, maka sungguh dia telah berada pada posisi berbicara dan bermunajat kepada Rabb-nya, maka (disaat itu) hendaknya dia sepenuhnya berhati-hati jangan sampai memancing kemarahan dan kemurkaan-Nya dengan dia mengajak-Nya berbicara dan bermunajat, tetapi hatinya berpaling dan menengok kepada selain-Nya. Maka sungguh perbuatannya itu akan mengundang kemurkaan-Nya, dan di saat itu dia layaknya seorang yang didekatkan dan hadapkan oleh seorang raja dari raja-raja dunia, maka mulailah orang tersebut mengajak raja berbicara dengan membelakangi raja atau memalingkan wajahnya dari raja ke arah kanan dan kiri, dan dia tidak mau tahu apa yang diucapkan oleh raja, maka bagaimanakah kiranya kemarahan sang raja kepada orang semacam ini?

Lantas bagaimana kiranya dengan kemarahan Raja Yang Maha Hak dan Maha Nyata, Rabb semesta alam yang menegakkan langit dan bumi?

(KEADAAN HAMBA PADA BACAAN AL FATIHAH)

Kemudian seyogyanya seorang yang shalat -ketika membaca Al Qur’an- untuk berhenti sejenak pada setiap ayat dari surat Al Fatihah, menunggu jawaban Rabb-nya, dan seolah-olah ia mendengar Rabb-nya berfirman, (Hamadani ‘abdi) “Hamba-Ku memuji-Ku”, ketika ia selesai membaca (Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin) ’’Segala puji hanya bagi Rabb Semesta Alam”, kemudian ketika ia selesai membaca, (Arrahmaanirrahim) “Yang Maha Pengasih dan Penyayang”, ia berhenti sejenak menunggu jawaban-Nya, (Atsna ‘alayya ‘abdi) “Hamba-Ku mengulang pujian kepada-Ku”, ketika ia selesai membaca, (Maaliki yaumiddiin), ia menunggu jawaban-Nya, (Majjadani ‘abdi) “Hamba-Ku memuliakan-Ku”, ketika selesai membaca, (lyyaka na’budu waiyyaka nastaiin), ia menunggu jawaban-Nya, (Haadza baini wabaina ‘abdi) “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku”, ketika ia selesai membaca, (Ihdinashiraathal mustaqiim) dan seterusnya, ia menunggu jawaban-Nya, (Haadza li’abdi wa Wabdi maa qaal) “Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang diucapkannya”.

Dan barangsiapa yang dapat merasakan kelezatan shalat, pasti dia mengetahui bahwa posisi takbir dan membaca Al Fatihah, keduanya tidak dapat digantikan oleh posisi-posisi [shalat] yang lainnya, sebagaimana posisi berdiri dan ruku’ serta sujud tidak ada yang dapat menggantikannya. Pada setiap jenis dari jenis-jenis ibadah yang terkandung pada peribadatan shalat terdapat pengaruh dan peribadatan yang tidak didapati pada jenis yang lainnya. Kemudian pada setiap ayat dari ayat-ayat Al Fatihah memiliki peribadatan, rasa, jenis dan aroma tersendiri yang tidak didapati pada ayat yang lainnya.

Pada firman Allah, “Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin”, engkau mendapati pada kalimat ini penetapan seluruh kesempurnaan bagi Rabb pada perbuatan, sifat dan nama-Nya; dan pensucian bagi Allah yang Maha Suci dan Maha Terpuji dari semua kejelekan dan kekurangan pada perbuatan, sifat dan nama-Nya. Dan sesungguhnya Allah itu terpuji pada perbuatan- perbuatan dan sifat-sifat serta nama-namaNya; dan disucikan dari aib-aib dan kekurangan-kekurangan pada perbuatan-perbuatan, sifat-sifat dan nama-nama-Nya.

Maka seluruh perbuatan-Nya merupakan hikmah, kasih sayang, kemaslahatan dan keadilan, tidak keluar dari itu. Semua sifat-sifat-Nya adalah sifat-sifat yang sempurna dan mulia, dan semua nama-nama-Nya adalah husna (sangat baik).

(DI ANTARA MAKNA AL HAMD)

Dan pujian Allah yang Maha Suci telah memenuhi dunia dan akherat, langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Sehingga, alam semesta berbicara adalah dengan pujian-Nya, penciptaan dan urusan semuanya adalah bersumber dari pujian- Nya dan tegaknya adalah dengan pujian-Nya, ada dan tidak adanya (perkara-perkara tersebut) adalah dengan pujian-Nya. Maka pujian-Nya merupakan sebab adanya segala sesuatu yang ada. Dia-lah yang mengakhiri segala sesuatu yang ada, setiap yang ada mempersaksikan pujian-Nya. Maka diutusnya para rasul adalah dengan pujian-Nya, diturunkannya kitab-kitab adalah dengan pujian-Nya, dimakmurkannya surga oleh penduduknya adalah dengan pujian-Nya, dipenuhinya neraka dengan penduduknya adalah dengan pujian-Nya, sebagaimana keduanya (surga dan neraka) ada adalah dengan pujian-Nya.

Tidaklah Allah ditaati dan dimaksiati kecuali dengan pujian-Nya. Tidaklah jatuh sehelai daun pun melaikan dengan pujian-Nya. Tidaklah seekor semut hitam yang kecil bergerak di alam ini kecuali dengan pujian-Nya. Dia Yang Maha Suci dan Maha Tinggi Yang Terpuji pada Dzat-Nya meskipun para hamba tidak memuji-Nya, sebagaimana Allah itu Esa meskipun para hamba tidak mengesakan-Nya. Dia-lah Ilah Yang Maha Hak meskipun para hamba tidak mempertuhankan-Nya. Allah yang Maha Suci, Dia-lah yang memuji diri-Nya sendiri melalui perantaraan lisan orang yang memuji-Nya sebagaimana sabda Nabi,

“Sesungguhnya Allah berfirman melalui lisan nabi-Nya, ‘Semoga Allah mengabulkan orang yang memuji-Nya’”. [1]

Maka pada hakikatnya Allah-lah yang memuji diri-Nya sendiri melalui perantaraan lisan para hamba-Nya. Dia-lah yang menjalankan pujian pada lisan dan hati para hamba-Nya. Perbuatan-Nya melangsungkan pujian pada para hamba-Nya adalah dengan sebab pujian-Nya. Maka hanya milik-Nya-lah segala pujian dan kerajaan seluruhnya, di tangan-Nya-lah seluruh kebaikan dan hanya kepada-Nya-lah segala sesuatu -baik yang nampak atau yang tersembunyi- dikembalikan.

Ini adalah sekelumit pengenalan tentang peribadatan al hamd, dan pengenalan ini layaknya setetes air dari lautan peribadatan al hamd yang sangat dalam.

Dan di antara peribadatan yang terkandung pada al hamd adalah seorang hamba mengenali bahwasanya pujiannya kepada Rabb-nya merupakan nikmat dari-Nya, yang karenanya Dia berhak mendapatkan pujian darinya. Manakala dia memuji-Nya karena sebab kenikmatan-Nya, maka disaat itu Dia berhak mendapatkan pujian berikutnya, dan demikian seterusnya.

Sehingga, seorang hamba meskipun dia menghabiskan sepanjang nafasnya untuk memuj iRabb-nya atas kenikmatan-Nya, niscaya kewajiban untuk memuji-Nya karena sebab kenikmatan-Nya seharusnya lebih banyak lagi daripada apa yang telah dilakukannya, bahkan berlipat-lipat lagi. Dan tidak seorang pun yang mampu mendatangkan [semua] pujian [yang layak] bagi-Nya dengan pujian-pujian yang dilakukannya meskipun dia memuji- Nya dengan semua pujian yang ada. Seorang hamba berjalan kepada Allah adalah dengan seluruh kenikmatan-Nya, maka dia memuji-Nya atas kenikmatan tersebut. Manakala ia memuji-Nya karena satu kenikmatan yang terluput darinya, maka dia memuji-Nya karena Dia mengilhaminya pujian.

Al Auza’i berkata, “Saya mendengar sebagian penyair melantunkan di dalam kamar mandi, ‘Pujian hanya bagi-Mu baik karena satu kenikmatan (yang didapat) ataupun karena satu masibah yang tertolak.’”

Dan di antara peribadatan al hamd adalah seorang hamba mengakui kelemahan dirinya untuk dapat memuji-Nya, dan dia mengakui bahwa pujian yang dilakukannya tidak lain karena pertolongan-Nya. Maka Allah Yang Maha Suci-lah yang mengilhaminya pujian, sehingga Allah berhak untuk dipuji karenanya, karena Dia-lah yang menjalankan pujian pada lisan dan hatinya, seandainya bukan karena Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang mendapatkan petunjuk.

Kemudian di antara peribadatan al hamd adalah menerapkannya pada seluruh rincian keadaan-keadaan hamba, baik yang lahir maupun batinnya, baik pada keadaan yang disukai ataupun yang tidak disukainya, bahkan pada semua keadaan- keadaan para makhluk-Nya; yang baik dan yang jahatnya; kelas atas dan kelas bawahnya. Maka pada hakikatnya, Dia sajalah yang pantas dipuji atas semuanya itu, meskipun seorang hamba tidak mengetahui hikmahnya, dan tidak mengetahui semua pujian yang berhak didapatkan oleh Allah atas perbuatan hamba. Ucapan alhamdulillah merupakan ilham dari Allah, maka ada orang yang sedikit mengucapkannya dan ada pula yang banyak, sesuai dengan kadar pengenalan hamba terhadap Rabb-nya.

Dan Nabi bersabda di dalam hadits syafa’at,

“Maka saya menyungkur sujud, kemudian Allah mengilhamiku pujian-pujian yang belum pernah terlintas dibenakku yang saya gunakan untuk memuji-Nya.” 

 

(PERIBADATAN RABBIL ‘AALAMIIN)

Kemudian pada ucapan hamba, ’’Rabbil ‘aalamiin”, terkandung satu peribadatan yaitu mempersaksikan keesaan-Nya pada rububiah-Nya, dan bahwasanya sebagaimana Dia adalah Rabb semesta, alam Yang Memberikan rizki kepada mereka, Yang Mengatur urusan mereka, Yang Mengadakan mereka, Yang Mencukupi mereka, maka Dia jugalah satu-satunya Ilah mereka dan satu-satunya tempat mereka berlindung serta satu-satunya tempat mereka meminta pertolongan ketika tertimpa musibah. Maka tidak ada Rabb (tuhan) dan Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Dia.

(PERIBADATAN ARRAHMAANIRRAHIIM)

Kemudian pada bacaannya, “Arrahmaanirrahiim” terkandung peribadatan yang khusus bagi Allah, yaitu seorang hamba menyaksikan rahmat-Nya yang umum, yang meliputi segala sesuatu dan yang menyebar kepada semua makhluk. Dan seluruh makhluk yang ada mengambil bagian dari rahmat-Nya, Terlebih lagi [menyaksikan] rahmat-Nya yang khusus kepadanya yang karenanya dia dibangunkan (untuk berdiri shalat) di hadapan- Nya, “Bangunkan si fulan!“ Disebutkan pada sebagian atsar bahwa setiap malam Jibril berkata, “Bangunkan si fulan dan tidurkan si fulan!”, maka karena rahmat-Nya ia dibangunkan untuk berkhidmat dengan bermunajat kepada-Nya mencari perhatian-Nya, mengharap kasih sayang-Nya, meminta hidayah dan rahmat-Nya dan meminta kesempurnaan nikmat dunia dan akheratnya, maka hal ini terjadi karena rahmat-Nya, Dan rahmat Allah meliputi segala sesuatu sebagaimana pujian-Nya meliputi segala sesuatu,

“…Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu…” (Ghaafir: 7)

Sedangkan selainnya dalam keadaan terjauhkan dan terhalang dari rahmat-Nya yang khusus ini.

(PERIBADATAN MAALIKI YAUMIDDIIN)

Kemudian bacaannya, “Maaliki yaumiddiin”, hendaknya diberi peribadatannya berupa perendahan diri dan rasa terikat, mencari keadilan dan menegakkannya, menahan diri dari kezaliman dan kemaksiatan, merenungkan kandungannya yaitu penetapan adanya tempat kembali (akherat), penetapan keesaan Allahdisaat itu dalam menghukumi makhluk-Nya,dan penetapan bahwasanya hari Akherat adalah suatu hari di waktu Allah membalasi para makhluk sesuai dengan amalan-amalannya yang baik dan yang jelek. Dan yang seperti ini merupakan rincian-rincian dari pujian kepada-Nya dan merupakan konsekuensinya, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah,

“Dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.’” (Az Zumar: 75)

Dan diriwayatkan bahwa seluruh makhluk memuji-Nya di hari Kiamat -baik penduduk surga maupun penduduk neraka- karena keadilan dan kutamaan-Nya. Dan dikarenakan ucapan alhamdulillahi rabbil ‘aalamin adalah pengkhabaran tentang pujian hamba kepada-Nya, maka Allah menjawab, ”Hamba-Ku memuji-Ku”.

(APAKAH MAKNA ATS TSANA DAN AT TAMJIID?)

Dan dikarenakan ucapan, “Arrahmaanirrahim” adalah pengulangan pujian terhadap sifat-sifat kesempurnaan-Nya, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku mengulangi pujian kepada-Ku”, karena sesungguhnya ats tsana tidaklah terjadi kecuali dengan mengulang pujian terhadap sifat-sifat-Nya yang terpuji, maka al hamd adalah pujian kepada-Nya, sedangkan arrahmaanirrahiim adalah pensifatan rahmat bagi-Nya,

Dan tatkala hamba mensifati Rabb-nya dengan menyendirikan-Nya sebagai penguasa di hari Kiamat dan Dia adalah Raja yang sesungguhnya, Raja dunia dan akherat, yang hal itu mengandung tampaknya keadilan, kesombongan, kebesaran, dan keesaan-Nya serta kebenaran rasul-Nya, maka Allah menjawab, ’’Hamba-Ku memuji-Ku”, karena sesungguhnya at tamjid adalah pujian terhadap sifat-sifat-Nya yang agung, mulia, adil lagi baik.

(PERIBADATAN IYYAKA NA’BUDU)

Maka apabila dia membaca, “lyyaka na’budu” (hanya kepada-Mu aku beribadah), hendaknya dia menunggu jawaban-Nya, “Haadza baini ujabaina ‘abdi wa li’abdi ma qaal” (ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya).

Dan perhatikanlah peribadatan dan hak-hak yang terkandung pada dua kalimat ini; dan bedakan antara kalimat yang diperuntukkan bagi Allah dan yang diperuntukkan bagi hamba; dan pahamilah rahasia dari keadaan salah satunya untuk Allah dan yang lainnya untuk hamba; dan bedakan antara tauhid yang terkandung pada kalimat iyyaka na’budu dengan yang terkandung pada iyyaka nastaiin; dan pahamilah rahasia dari keberadaan kedua kalimat ini di tengah-tengah dua (ayat) pujian sebelumnya dengan dua (ayat) doa setelahnya; dan pahamilah pendahuluan amil dari ma’mul-nya   padahal mengakhirkan ma’mul itu lebih ringkas dan simpel; serta pahamilah rahasia dari pengulangan dhamir (kata ganti) dua kali.

(DIDAHULUKANNYA IBADAH DARIPADA ISTI’ANAH)

Maka saya jawab:

Allah menghendaki darinya agar ibadah didahulukan daripada isti’anah (meminta pertolongan), karena ibadah itu untuk Allah sedangkan isti’anah itu untuk hamba. Sehingga, sebagaimana Allah itu adalah Dzat yang diibadahi, maka Dia jugalah yang dimintai pertolongan untuk dapat beribadah kepada-Nya. Maka makna dari iyyaka na’budu adalah hanya Engkau yang saya kehendaki dengan peribadatanku.

Ibadah itu mencakup amal shalih yang ikhlas serta ilmu yang bermanfaat yang menunjukkan kepada Allah dan kepada pengenalan dan kecintaan-Nya serta kepada kejujuran dan keikhlasan. Ibadah merupakan hak Rabb atas hamba-Nya. Dan isti’anah itu mencakup istianah-nya seorang hamba kepada Rabb-nya dalam semua urusannya, dan isti’anah itu merupakan perkataan yang mencakup bagiannya hamba.

Sehingga, setiap ibadah yang bukan karena Allah dan bukan kepada Allah, maka ibadah tersebut batil dan sia-sia, dan setiap isti’anah yang tidak ditujukan kepada Allah adalah kehinaan dan kerendahan.

Dan renungkanlah kemanfaa tan ilmu yang diberikan oleh salah satu dari dua kalimat tadi kepada hamba; dan [renungkanlah] penyakit-penyakit yang meniadakan peribadatan yang dapat ditolak dengan salah satu dari kalimat tadi. Perhatikanlah kemanfaatan dan penolakannya; juga perhatikanlah bagaimana dua kalimat ini memasukkan hamba kepada peribadatan yang nyata.

(AL QUR’AN BERPOROS PADA DUA KALIMAT INI)

Dan renungkanlah ilmu tentang bagaimana Al Qur’an seluruhnya -dari awal hingga akhirnya- berputar pada kedua kalimat tadi. Begitu juga penciptaan, urusan, pahala, hukuman, dunia dan akherat. Dan [renungkan] bagaimana kedua kalimat ini mencakup tujuan yang paling mulia danperantara yang paling sempurna; dan mengapa Allah mendatangkan pada kedua kalimat tersebut dhamir mukhaththab (kata ganti orang kedua) yang hadir bukan dhamir ghaib (kata ganti orang ketiga). Dan pembahasan ini menuntut sebuah kitab yang besar, seandainya bukan karena khawatir keluar dari pembahasan kita, niscaya akan kami jelaskan dan kami perpanjang pembahasan ini. Barangsiapa yang ingin mengetahui pembahasannya yang melebar, maka sungguh kami telah menyebutkannya pada kitab “Maraahilissa ‘iriin baina Manazili iyyaka Na’budu Waiyyaka Nastaiin dan pada kitab Ar Risaalah Al Mishriyyah.

(KEBUTUHAN HAMBA KEPADA UCAPANNYA, “IHDINASHIRAATHAL MUSTAQIIM”)

Kemudian, seorang hamba seyogyanya merenungkan kebutuhan dan keperluannya ke pada ucapannya, “Iyyakana’ budu waiyyaka nastaiin” (Hanya kepada-Mu aku beribadah dan hanya kepada-Mu aku mohon pertolongan) yang kandungannya adalah mengenali kebenaran, kemudian mencari, menghendaki dan mengamalkannya, kemudian kokoh di atasnya, kemudian berdakwah kepadanya kemudian sabar atas gangguan yang datang dari orang yang didakwahinya. Sehingga, dengan seorang hamba menyempurnakan lima tingkatan ini, maka petunjuk yang diperolehnya akan menjadi sempurna, dan manakala hamba tidak menyempurnakan tingkatan-tingkatan tadi, maka petunjuk yang diperolehnya menjadi tidak sempurna.

(JENIS-JENIS HIDAYAH YANG DIBUTUHKAN OLEH HAMBA)

Dikarenakan seorang hamba itu butuh akan hidayah ini pada lahir batinnya bahkan pada semua perkara yang dikerjakan dan yang ditinggalkannya berupa:

  • Perkara-perkara yang telah dikerjakannya dalam keadaan tidak mencocoki petunjuk dari sisi ilmu dan amal serta kehendaknya, maka dia butuh untuk bertaubat dari semua itu, dan bertaubat darinya termasuk bagian dari petunjuk;
  • Perkara-perkara yang kepadanya ia telah ditunjuki secara global tidak secara rinci, maka dia butuh kepada petunjuk untuk mengenali perkara-perkara tersebut dengan rincian-rinciannya;
  • Perkara-perkara yang kepadanya ia telah ditunjuki dari satu sisi, tetapi tidak ditunjuki pada sisi yang lainnya, maka dia butuh kepada petunjuk yang sempurna agar dirinya dapat menyempurnakan perkara-perkara tersebut dengan petunjuk yang lurus, dan agar ditambahkan petunjuk di atas petunjuk yang telah didapatkannya;
  • Perkara-perkara yang di dalamnya ia membutuhkan petunjuk pada masa yang akan datang sebagaimana petunjuk tersebut telah didapatkannya pada masa yang telah lewat;
  • Perkara-perkara yang dirinya terluput dari meyakininya dengan keyakinan yang benar sehingga dia butuh petunjuk untuk dapat meyakininya dengan benar;
  • Perkara-perkara yang diyakininya, dalam keadaan menyelisihi yang sebenarnya, maka dia butuh petunjuk untuk dapat menghilangkan keyakinan yang batil itu dari hatinya dan petunjuk untuk dapat mengokohkan pada hatinya lawan dari keyakinan yang batil tersebut;
  • Perkara-perkara yang termasuk bagian dari hidayah yang sebenarnya sanggup dijalankannya, akan tetapi belum tercipta pada dirinya kehendak untuk menjalankannya, maka dia butuh untuk menyempurnakan petunjuknya agar kehendak tercipta pada dirinya;
  • Perkara-perkara yang tidak sanggup untuk dijalankannya padahal dirinya memiliki kehendak untuk menjalankannya, maka dia membutuhkan hidayah agar dapat menjalankannya;
  • Perkara-perkara yang tidak sanggup untuk dikerjakannya dan dia tidak memiliki kehendak untuk megerjakannya, maka dirinya membutuhkan kepada terciptanya kemampuan dan kehendak untuk mengerjakannya agar petunjuk yang didapatkannya menjadi sempurna;
  • Perkara-perkara yang dikerjakannya sesuai dengan petunjuk baik dari sisi keyakinan, kehendak, ilmu dan amal, maka dia membutuhkan petunjuk untuk tetap kokoh dan terus menerus di atasnya;

Sehingga, kebutuhannya untuk meminta petunjuk merupakan sebesar-besar kebutuhan, dan keperluannya akan petunjuk adalah keperluan yang sangat darurat. Oleh karena itu, Rabb yang Maha Penyayang mewajibkan hamba untuk meminta (kepada-Nya) permintaan ini siang dan malam pada keadaannya yang paling utama yaitu shalat lima waktu. Allah mewajibkan hamba meminta-Nya dengan permintaan ini berkali-kali karena kebutuhan dan keperluannya yang sangat darurat akan petunjuk yang dicari ini.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa jalannya golongan yang mendapat petunjuk itu berbeda dengan jalannya golongan yang dimurkai dan jalannya golongan yang sesat, dan mereka adalah adalah orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani dan yang selain keduanya.

(MAKHLUK DALAM KAITANNYA DENGAN HIDAYAH ITU ADA TIGA GOLONGAN)

Terkait dengan petunjuk ini, makhluk itu terbagi menjadi tiga golongan:

  • Golongan yang diberikan nikmat, yaitu dengan sebab dia mendapat petunjuk dan terus menerus mengikuti petunjuk. Dan besar kecilnya nikmat yang diperolehnya bersama golongan yang diberi nikmat adalah sesuai dengan rincian-rincian dan bagian- bagian petunjuk yang didapatkannya.
  • Golongan yang sesat, yaitu golongan yang tidak diberi petunjuk tersebut dan tidak diberi taufik untuk mengikutinya.
  • Golongan yang dimurkai, yaitu golongan yang mengetahui petunjuk akan tetapi tidak diberi taufik untuk mengamalkan konsekuensi dari petunjuk tersebut.

Maka, golongan yang sesat adalah golongan yang menyimpang dari petunjuk dan kebingungan tidak mendapatkan jalan kepada petunjuk.

Dan golongan yang dimurkai adalah golongan yang bimbang dan menyimpang dari petunjuk, karena menyimpang dari kebenaran, padahal dia mengenali kebenaran tersebut dan mengetahui petunjuk.

Maka golongan yang pertama yang diberi nikmat adalah tegak dengan petunjuk dan agama yang benar pada ilmu dan amalan serta keyakinannya, sedangkan orang yang sesat adalah sebaliknya, yaitu ilmu dan amalannya lepas dari petunjuk. Dan Allah adalah pemberi petunjuk kepada jalan yang benar.

Seandainya saja yang dikehendaki bukan memberikan perhatian tentang adanya kontradiksi dan perbedaan yang ada antara rasa dari shalat dan rasa dari nyanyian, niscaya kami akan memaparkan pembahasan ini dengan pemaparan yang panjang lebar dan mencukupi, akan tetapi “likulli maqaam maqaal” (pada setiap tempat ada ucapan yang tersendiri), maka marilah kita kembali kepada inti pembahasan.

(PERIBADATAN AAMIIN DAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN)

Dan Allah mensyariatkan hamba yang shalat pada akhir doanya ini untuk membaca aamiin sebagai bentuk harapan akan terkabulnya doa dan diperolehnya apa yang diminta, serta sebagai penutup dan kepastian akan terkabulnya doa. Oleh karena itu, orang-orang yahudi bertambah dengki kepada kaum muslimin ketika mereka mendengar kaum muslimin mengeraskan bacaan aamiin pada shalat mereka.

Kemudian Allah mensyariatkan kepadanya untuk mengangkat kedua tangannya ketika hendak ruku’ sebagai bentukpengagungan terhadap perintah Allah; sebagai perhiasan shalat; sebagai bentuk peribadatan yang khusus bagi tangan sebagaimana peribadatan yang dilakukan oleh anggota badan yang lain; dan sebagai bentuk peneladanan terhadap sunnah Rasulullah. Maka, mengangkat tangan merupakan perhiasan shalat dan keindahannya serta merupakan pengagungan terhadap syiar-syiar shalat.

Kemudian Allah mensyariatkan baginya untuk mengucapkan takbir ketika melakukan perpindahan (posisi) di dalam shalat, dari satu rukun ke rukun yang lain sebagaimana talbiyah yang diucapkan ketika melakukan perpindahan di dalam ibadah haji, dari satu tempat peribadatan kepada tempat peribadatan yang lain. Sehingga, takbir itu merupakan syiar (lambang) di dalam shalat sebagaimana talbiyah merupakan syiar di dalam haji, agar hamba mengetahui bahwa rahasia shalat adalah mengagungkan dan membesarkan Rabb yang Maha Tinggi dengan beribadah hanya kepada-Nya.

___________________________

[Dari: Asraarush Shalaah; Penulis: Syaikhul Islam Ibnul Qayim Al Jauziah; Penyunting: Syaikh Iyaadh Al Qaisi; Edisi Indonesia: Tamasya Indah Seputar Shalat Menyibak Rahasia Keindahan, Keagungan dan Urgensi Shalat; Penerjemah: Ustadz Abdul Hamid Al Mujuri; Penerbit: el Fouz Publishing]

Posted on November 21, 2012, in Rahasia Shalat and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: