Inilah Rahasia Shalat (3)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

(PERIBADATAN RUKU’)

Kemudian, hamba disyariatkan untuk tunduk kepada Rabb Yang Maha Suci dengan melakukan ruku’ dalam keadaan merendahkan dirinya kepada keagungan Rabb-nya dan tunduk akan kehebatan-Nya serta menghinakan diri kepada keperkasaan-Nya.

Maka, pujian seorang hamba kepada Rabb-nya pada (posisi) ruku’ ini adalah dilakukan dengan membungkukkan tulang shulbi-nya, merendahkan anggota tubuhnya, menundukkan kepalanya, membungkukkan punggungnya, dan membesarkan-Nya dengan mengagungkan, mengucapkan tasbih (pensucian bagi Allah) dengan disertai pengagungan kepada-Nya.

Maka pada hamba terkumpullah ketundukkan hati dan anggota badan serta ucapan dalam keadaannya yang paling sempurna. Dan di dalam rukun ini terkumpullah pada dirinya ketundukkan, kerendahan, pengagungan dan dzikir (mengingat-Nya) yang dengan dzikir itu terbedakanlah antara ketundukkan seorang hamba kepada Rabb-nya dengan ketundukkan sebagian hamba kepada sebagian yang lainnya. Maka sesungguhnya ketundukkan adalah sifat dari hamba sedangkan keagungan adalah sifat bagi Rabb.

Dan kesempurnaan peribadatan ruku’ itu adalah dengan cara seorang yang ruku’ itu menganggap dirinya kecil dan lemah di hadapan-Nya, yang anggapan kecil di hadapan Rabb-nya tersebut dapat menghapus semua pengagungan yang ada di hatinya terhadap dirinya dan terhadap makhluk, kemudian menetapkan pengagungan pada hatinya hanya bagi Rabb-nya saja, tanpa ada sekutu bagi-Nya.

(MANAKALA HATI ITU MENGAGUNGKAN RABB-NYA, MAKA PENGAGUNGAN TERHADAP MAKHLUK AKAN HILANG DARINYA)

Dan setiap kali pengagungan terhadap Rabb menguasai hatinya dan menguat, maka pengagungan terhadap makhluk akan hilang dari hamba, dan anggapan rendah dirinya di hadapan-Nya akan .bertambah. Maka ruku’ itu adalah dengan hati itu sendiri, begitu juga niat. Adapun anggota badan mengikuti hati dan sebagai penyempurna bagi hati.

Kemudian disyariatkan kepada hamba untuk memuji Rabb-nya dan mengulang-ulang pujian-Nya atas kenikmatan-kenikmatan-Nya ketika dia beri’tidal, tegak dan kembali kepada keadaanya yang paling baik (berdiri), dalam keadaan tegak dan lurus badannya, dia memuji Rabb-nya dan mengulang-ulang pujian kepada-Nya atas kenikmatan-kenikmatan-Nya -ketika dia beri’tidal, tegak dan kembali kepada bentuknya yang paling baik- karena dirinya diberi taufik dan ditunjuki oleh Allab kepada ketundukan ini (ruku’) yang sungguh orang lain terhalang untuk melakukan peribadatan ruku’ ini.

(PERIBADATAN BERDIRI I’TIDAL)

Kemudian perpindahannya dari posisi ruku’ ke posisi i’tidal, berdiri tegak untuk berkhidmat di hadapan-Nya adalah seperti keadaannya ketika dia membaca Al Qur’an, [1] oleh karena itu disyariatkan baginya untuk memuji dan memuliakan-Nya sebagaimana hal itu disyariatkan baginya ketika dia membaca Al Qur’an.

Dan i’tidal ini memiliki rasa dan keadaan yang khusus yang diperoleh hati, berbeda dengan rasa dan keadaan yang diperoleh pada ruku’. Dan i’tidal merupakan rukun yang dituju pada dzatnya sebagaimana rukun pada ruku’ dan sujud.

Oleh karena itu Rasulullah memanjangkan i’tidal sebagaimana beliau memanjangkan ruku’ dan sujud, dan memperbanyak pujian-pujian dan pemuliaan padanya sebagaimana yaiig kami jelaskan pada “Petunjuk Rasulullah di dalam Shalatnya” (di dalam kitab Zaadul Ma’ad). Dan Rasulullah ketika shalat malam memperbanyak dan mengulang-ulang ucapan “lirabbilhamdu, lirabbilliamdu” (pujian hanyalah bagi Rabb-ku, pujian hanyalah bagi Rabb-ku).

(PERIBADATAN SUJUD)

Kemudian disyariatkan baginya untuk bertakbir, mendekat dan menyungkur sujud; memberikan -di saat ia sujud- kepada setiap anggota sujud bagiannya yang berupa peribadatan; meletakan ubun-ubunnya pada tanah di Hadapan Rabb-nya dalam keadaan bersandar, patuh dan menundukkan hatinya kepada-Nya; meletakkan bagian tubuhnya yang paling mulia -yaitu wajahnya- pada tanah dan juga meletakkan wajah hatinya bersamaan dengan dia meletakkan wajah lahirnya dalam keadaan sujud di atas tanah, wajah dan anggota tubuhnya yang termulia terlumuri dengan debu di hadapan Tuan-nya, merendahkan dirinya, hati dan anggota badannya, tunduk kepada keagungan Rabb-nya, tunduk kepada keperkasaan-Nya, kembali kepada-Nya, dalam keadaan rendah, hina, tunduk dan lemah. Sungguh bagian-bagian atas dari anggota tubuhnya terbalik menjadi bagian-bagian bawahnya.

Dan sungguh keadaan hatinya selaras -ketika sujud- dengan keadaan jasadnya. Maka hatinya sujud dihadapan-Nya sebagaimana jasadnya, hidung dan wajahnya, kedua tangan dan lututnya, dan kedua kakinya sujud bersamanya. Sehingga hamba ini adalah sangat dekat dan didekatkan (kepada Allah). Dan keadaan yang terdekat antara hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sujud.

Dan disyariatkan supaya dia mengangkat kedua pahanya dari kedua betisnya; menjauhkan perutnya dari kedua pahanya; merenggangkan kedua lengannya dari kedua lambungnya, agar setiap anggota tubuhnya mengambil bagian ketundukan dan agar sebagian dari anggota tubuhnya tidak bertumpu pada sebagian yang lain.

Maka alangkah pantasnya jika [dikatakan] posisi ini adalah posisi yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya dibandingkan dengan posisi-posisi yang lainnya, sebagaimana sabda Nabi,

“Posisi yang terdekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sujud.” [1]

Dikarenakan sujudnya hati adalah ketundukannya yang sempurna kepada Rabb-nya, maka Allah mengokohkan hati tersebut untuk terus menerus di atas sujud sampai hari Kiamat, sebagaimana ditanyakan oleh sebagian salaf,

“Apakah hati itu dapat sujud?”

Maka dia menjawab,

“Demi Allah, benar! Yaitu dengan satu sujud yang hati itu tidak akan pernah mengangkat kepalanya dari sujud itu, sampai hati tersebut bertemu dengan Allah.”

(Jawaban dari salaf tersebut) mengisyarat kepada ketundukan, kerendahan, ketaatan, ketawadhu’an, inabah-nya [2]  dan kehadirannya bersama Allah di manapun hati itu berada, hati merasa diawasi oleh Allah baik di kesendirian maupun di keramaian.

(SHALAT ITU TERBANGUN DI ATAS LIMA RUKUN)

Karena shalat itu dibangun di atas lima perkara, yaitu membaca Al Qur’an, berdiri, ruku’ sujud dan dzikir, maka shalat itu dinamai dengan salahsatu satu dari lima nama berikut ini:

1. Dinamai dengan qiyaam, karena firman Allah,

“Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)” (Al Muzzammil: 2)

dan firman-Nya,

“…Dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.“ (Al Baqarah: 238)

2. Dinamai dengan qira’ah, karena firman-Nya,

“…Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al Isra’: 78)

“…Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari AlQur’an…” (Al Muzzammil: 20)

3. Dinamai dengan ruku’, karena firman-Nya,

“…Dan ruku’lah (shalatlah) beserta orang-orang yang ruku’ (shalat).” (Al Baqarah: 43)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Shalatlah!’ niscaya mereka tidak mau shalat.” (Al Mursalat: 48)

4. Dinamai dengan sujud, karena firman-Nya,

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).” (Al Hijr: 98) dan firman-Nya,

“Dan sujudlah (shalatlah) dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (Al ‘Alaq:19) 

5. Dinamai  juga dengan dzikir, karena firman-Nya.

“…Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (shalat Jum’at)…” (Al Jumu’ah: 9)

“…Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah (shalat)…” (Al Munafiqun: 9)

Dan posisi shalat yang paling mulia adalah sujud, sedangkan dzikir yang paling mulia adalah membaca Al Qur’an. Surat yang pertama turun kepada Nabi Adalah surat lqra bismi rabbika, yang dimulai dengan perintah membaca [Al Qur’an] dan diakhiri dengan perintah bersujud. Maka rakaat itu ditetapkan atas hal tersebut (awalnya adalah membaca Al Qur’an dan akhirnya adalah sujud).

(KEADAAN HAMBA KETIKA BERADA PADA POSISI DI ANTARA DUA SUJUD)

Kemudian disyariatkan untuk mengangkat kepalanya, kemudian duduk i’tidal dengan lurus. Karena i’tidal ini diapit oleh dua sujud-sujud yang dilakukan sebelum dan sesudahnya, dan dia berpindah dari sujud yang pertama kepada duduk i’tidal, kemudian dari i’tidal kepada sujud berikutnya- maka duduk i’tidal ini memiliki kemuliaan. Dan Rasulullah memanjangkan duduk di antara dua sujud ini sesuai dengan lamanya sujud, dalam keadaan beliau berendah diri kepada Rabb-nya di dalam sujudnya itu, berdoa, meminta ampun, meminta rahmat, petunjuk, rizki dan kesehatan kepada-Nya. Dan duduk ini memiliki rasa dan keadaan yang khusus yang berbeda dengan rasa dan keadaan sujud. Maka, pada posisi duduk ini, hamba berlutut di hadapan-Nya, memasrahkan jiwanya di hadapan-Nya, meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya, mengharap ampunan dan rahmat-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya untuk mengatasi jiwanya yang senantiasa mengajak kepada kejelekan.

(KENAPA MEMBACA ISTIGHFAR DI ANTARA DUA SUJUD?)

Dan Nabi mengulang-ulang istighfar pada posisi ini dengan membaca “Rabbighfir lii, rabbighfir lii, rabbighfir lii!’’ (Wahai Rabb ampunilah aku, wahai Rabb ampunilah aku, wahai Rabb ampunilah aku!), dan memperbanyak -di dalamnya- harapan kepada Rabb-nya.

Maka umpamakanlah jiwamu -wahai orang yang shalat!- pada posisi ini seperti orang lain yang mempunyai hutang, sedangkan kamu adalah orang yang menanggung atas pembayarannya. Dan orang yang berhutang tersebut mengulur-ulur waktu dan membuat tipu daya (untuk lari dari kewajibannya) sedangkan kamu dituntut untuk melunasi hutang orang tersebut, dan orang yang berhutang tersebut dituntut untuk membayar hutangnya. Maka kamu meminta pertolongan untuk dapat melunasi hutang orang tersebut, sehingga kamu dapat membebaskannya dari hutang dan kamu terbebas dari tuntutan. Hati itu bersekutu dengan jiwa di dalam kebaikan dan kejelekan, pahala dan hukuman, dan di dalam pujian dan celaan.

Dan di antara perangai jiwa itu adalah lari dan keluar dari ikatan peribadatan dan mengabaikan hak-hak Allah dan -sebelumnya- mengabaikan hak-hak para hamba. Hati adalah sekutu dan tawanan bagi jiwa manakala kekuasaan jiwa menguat dan jiwa akan menjadi sekutu dan tahanan bagi hati manakala kekuasaan hati menguat.

Maka disyariatkan bagi hamba ketika mengangkat kepalanya dari sujud supaya dia berlutut di hadapan Allah, meminta pertolongan untuk mengatasi jiwanya, meminta pemaafan atas dosa-dosanya dan apa-apa yang telah diperbuatnya kepada Rabb-nya. Dia mengharap -pada posisi ini- agar Allah merahmatinya, mengampuninya, menunjukinya, dan memberinya rizki dan kesehatan. Dan sungguh lima kalimat ini telah mengumpulkan seluruh kebaikan dunia dan akherat. Sesungguhnya hamba itu butuh, bahkan kebutuhannya sangat mendesak untuk dapat memperoleh kebaikan dan dapat menolak kejelekan di kehidupan dunia dan akheratnya. Dan sungguh doa ini telah mencakup semua yang dibutuhkannya.

Sesungguhnya rizki itu akan mendatangkan kepada hamba kebaikan dunia dan akheratnya. Dan rizki itu mencakup rizki bagi badan, hati dan ruhnya. Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki.

Dan kesehatan itu dapat menolak kemudharatan dunianya, dan hidayah itu akan mendatangkan kepadanya kebaikan-kebaikan yang lain, dan ampunan itu dapat menolak darinya kemudharatan dunia dan akheratnya, dan rahmat itu mengumpulkan baginya semua perkara di atas. Dan hidayah itu meliputi semua urusan-urusannya yang rinci.

(KEDUDUKAN THAWAF DI DALAM HAJI SEPERTI KEDUDUKAN SUJUD DI DALAM SHALAT)

Dan disyariatkan baginya untuk kembali sujud seperti semula, dan tidak cukup baginya hanya dengan satu sujud saja di dalam satu rakaat, sebagaimana satu ruku’ mencukupinya. Yang demikian dikarenakan keutamaan sujud dan kemuliaannya, kedekatan hamba -di saat sujud- dengan Rabb-nya, dan kedudukannya di sisi Allah, sampai-sampai keadaan terdekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sujud. Dan sujud adalah ibadah yang paling dikenal dan paling pokok dibandingkan dengan rukun-rukun shalat yang lainnya. Oleh karena itu sujud dijadikan sebagai penutup dari satu rakaat, dan apa yang sebelumnya adalah seperti mukadimah bagi sujud. Kedudukan sujud di dalam shalat adalah seperti kedudukan thawaf ziarah, dan apa yang sebelum thawaf ziarah berupa wukuf di Arafah dan yang mengikutinya, adalah mukadimah bagi thawaf ziarah. Maka sebagaimana keadaan terdekat antara seorang hamba (di dalam shalat) adalah ketika dia sujud, maka demikian pula keadaan yang terdekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya pada manasik haji adalah ketika dia thawaf (sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Umar kepada orang yang melamar anak gadisnya dalam keadaan beliau sedang thawaf, maka beliau tidak menjawabnya, maka ketika telah selesai dari thawaf, beliau bertanya kepada orang tersebut, ’’Apakah kamu menyebutkan satu perkara dari perkara-perkara dunia dalam keadaan kami saling melihat dengan Allah pada thawaf kami?”

Oleh karena itu, wallahu a’lam, ruku’ diletakkan sebelum sujud sebagai tahapan dan perpindahan dari sesuatu kepada sesuatu yang lain yang kedudukannya lebih tinggi daripada yang sebelumnya.

(KENAPA SUJUD DIULANG DUA KALI?)

Dan disyariatkan baginya untuk mengulang-ulang perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan [yang ada di dalam shalat] ini, karena hal itu merupakan makanan bagi hati dan ruh yang keduanya tidak dapat tegak kecuali dengannya (perbuatan dan ucapan tersebut). Sehingga mengulang-ulangnya adalah seperti kedudukannya mengulang-ulang makanan, suapan demi suapan hingga dia kenyang dan seperti kedudukan mengulang-ulang minuman tegukan demi tegukan hingga hilanglah dahaganya. Maka seandainya seorang yang lapar makan hanya dengan satu suapan saja, kemudian makanan dijauhkan darinya, maka bagaimana mungkin satu suapan tadi dapat mengenyangkannya. Dan boleh jadi satu suapan tadi membuatnya lebih lapar daripada sebelumnya. Oleh karena itu, sebagian salaf mengatakan, “Perumpamaan orang yang shalat dalam keadaan dia tidak tumaninah pada shalatnya seperti orang yang lapar ketika disajikan kepadanya makanan, kemudian dia mengambilnya satu atau dua suapan, maka bagaimana suapan tadi dapat mengenyangkannya?”

Dan dalam mengulang setiap bacaan dan gerakan shalat terdapat peribadatan, pendekatan diri (kepada Allah),penempatan (bacaan dan perbuatan) yang kedua pada tempatnya syukur atas (ucapan dan perbuatan) yang pertama, tambahan kebaikan dan keimanan dengan melakukannya, pengenalan, kesejahteraan, kekuatan hati, dan kelapangan dada serta hilangnya kotoran hati, seperti perbuatan mencuci baju yang dilakukan berkali-kali.

Maka inilah hikmah Allah pada penciptaan dan perintah-Nya yang menyilaukan akal-akal, dan menunjukkan atas kesempurnaan rahmat dan kelembutan-Nya. Dan hikmah Allah yang tidak mampu diliputi oleh ilmumu adalah lebih tinggi, lebih agung dan lebih besar lagi. Dan penjelasan ini tidak lain adalah penjelasan yang sedikit tentang hikmah-Nya yang sangat banyak.

Tatkala dia hendak menyelesaikan dan menyempurnakan shalatnya dan tidak tersisa baginya kecuali berpaling darinya, maka disyariatkan baginya untuk duduk di akhir shalatnya menghadap kepada-Nya untuk memuji-Nya dengan pujian-pujian yang layak bagi-Nya. Dan yang paling utama untuk dibaca oleh hamba pada posisi duduk ini adalah at tahiyyat (salam penghormatan) yang mana at tahiyyat ini tidaklah layak diberikan kecuali hanya kepada Allah, dan tidak layak untuk diberikan kepada selain-Nya.

(PERIBADATAN DUDUK TASYAHHUD DAN MAKNA DARI AT TAHIYYAAT)

Dan dikarenakan kebiasaan para raja itu adalah diberi salam penghormatan dengan berbagai macam bentuknya, baik yang berupa perbuatan-perbuatan maupun ucapan-ucapan yang mengandung ketundukan terhadap mereka, sikap merendah, pujian bagi mereka, doa kekekalan dan kelanggengan bagi mereka dan bagi kerajaan mereka, maka di natara manusia ada yang memberikan salam penghormatan kepada sang raja dengan sujud, ada yang dengan pujian-pujian, ada yang dengan mendoakan kekekalan dan kelanggengan, dan ada pula yang melakukannya dengan semua bentuk salam penghormatan: dia sujud, memuji dan mendoakan kekekalan dan kelanggengan baginya. Maka Raja Yang Maha Hak dan Maha Nyata yang segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya adalah lebih layak untuk diberi salam-salam penghormatan oleh seluruh makhluk-Nya. Dan salam penghormatan itu pada hakikatnya hanya bagi Allah dan Dia-lah pemiliknya. Oleh karena itu, at tahiyyat ditafsirkan dengan kerajaan dan ditafsirkan juga dengan kekekalan dan kelanggengan. Dan hakikat at tahiyyat adalah yang telah saya sebutkan, yaitu at tahiyyat bagi kerajaan, raja dan penguasa.

Dan Allah Yang Maha Suci, Dia-lah yang memiliki semua sifat itu (sebagai Raja yang memiliki kekuasaan dan sebagai Penguasa), dan yang paling berhak dengan semua sifat itu. Maka Allah Yang Maha Suci adalah Raja, dan kerajaan hanyalah milik- Nya. Dan setiap salam penghormatan yang digunakan untuk memuliakan para raja berupa sujud atau pujian atau kekekalan atau kelanggengan, [semuanya itu] pada hakikatnya tidaklah pantas [diberikan] kecuali hanya kepada Allah. Oleh karena kata at tahiyyat itu didatangkan dalam bentuk jamak dan di-ma’rifah- kan dengan alif dan laam, karena yang dimaukan dengannya adalah makna yang umum (yang mencakup semua bentuk salam penghormatan). Dan at tahiyyaat adalah bentuk jamak dari tahiyyah, yang digunakan untuk menghormati para raja, dan tahiyyah diambil dari kata al hayah (kehidupan) dan asal dari tahiyyah adalah tahyiyah pada wazan (timbangan) takrimah, kemudian salah satu huruf ya’-nya diidghamkan (dilebur) dengan huruf ya’ yang lainnya, maka jadilah tahiyyah. Maka jika asal dari tahiyyah adalah al hayah (kehidupan), maka yang dimaukan oleh orang yang ber-tahiyyah dengan tahiyyah-nya adalah kelanggengan hidup, sebagaimana mereka mengatakan kepada para raja mereka [ketika mereka memberikan tahiyyah kepada para raja tersebut], “Bagimu kehidupan yang kekal dan langgeng”, dan sebagian mereka mengucapkan, “Semoga engkau hidup seribu tahun.” Dan dari at tahiyyah (salam penghormatan) itu diambil ucapan, “Semoga Allah melanggengkan hari-harimu atau hari-harinya, dan semoga Allah memperpanjang hidupmu.” Dan yang semisal itu dari pujian yang dikehendaki dengannya kelanggengan hidup dan kelanggengan kerajaan. Dan semua bentuk salam penghormatan tersebut tidaklah layak diberikan kecuali hanya kepada Allah Yang Maha Hidup dan yang terus menerus mengurus makhluk. Dia tidak akan mati sedangkan setiap raja -selain-Nya- akan mati, dan setiap kerajaan selain kerajaan-Nya akan lenyap.

(PENGGANDENGAN ASH SHALAWAT KEPADA AT THAYYIBAAT)

Kemudian ash shalawaat [1] di-athaf-kan (digandengkan) kepada at tahiyyaat dengan lafadz jamak dan ma’rifah, agar setiap kali lafadz shalawat itu dimutlakkan dengan bentuk jamak dan ma’rifah mencakup semua shalawat baik secara khusus maupun secara umum.[2] Maka semua shalawat itu (baik yang khusus maupun yang umum) adalah bagi Allah dan tidaklah layak kecuali bagi kepada Allah. Maka at tahiyyaat itu adalah milik Allah, dan as shalawat itu adalah bentuk peribadatan dan merupakan hak bagi Allah. Maka at tahiyyaat tidaklah terjadi kecuali bagi Allah dan as shalawat tidaklah layak kecuali bagi Allah.

Kemudian at thayyibaat di-athaf-kan kepada at tahiyyaat. Dan at thayyibat ini mencakup dua perkara: sifat dan kerajaan. Adapun sifat-Nya, maka sesungguhnya Allah itu baik, ucapan- Nya baik, tidaklah bersumber dari-Nya kecuali kebaikan, tidaklah disandarkan kepada-Nya kecuali kebaikan dan tidaklah naik kepada-Nya kecuali kebaikan.

(MAKNA ATH THAYYIBAAT)

Kebaikan-kebaikan seluruhnya adalah bagi Allah baik di dalam hal sifat, perbuatan, ucapan maupun di dalam hal penisbatan (penyandaran). Dan setiap yang disandarkan kepada Allah itu adalah baik, dan hanya milik-Nya-lah kalimat-kalimat dan perbuatan-perbuatan yang baik. Dan semua yang disandarkan kepada-Nya seperti rumah-Nya, hamba-Nya, ruh-Nya, unta-Nya dan surga-Nya -yang merupakan tempat orang-orang yang baik- adalah perkara-perkara yang baik, dan juga makna-makna kalimat ath thayyibaat itu adalah bagi-Nya semata. Dan at thayyibaat itu mencakup bertasbih, bertahmid, bertakbir, memuliakan dan memuji-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka kalimat-kalimat yang baik ini -yang digunakan untuk memuji Allah- dan makna-maknanya adalah bagi Allah semata tanpa ada sekutu bagi-Nya pada kalimat-kalimat dan makna-makna tersebut seperti,

“Maha Suci dan Maha terpuji Engkau ya Allah, dan Maha Barokah nama-Mu, dan Maha Tinggi kemuliaan-Mu, dan tidak ada llah selain-Mu.”

Dan seperti, “Subhanallah walhamdulillah wala ilahaillallahu wallahu akbar”, dan “subhaanallah wabihamdih subhaanallahil ‘adziim”, dan yang semisalnya.

Setiap kebaikan adalah milik-Nya, di sisi-Nya dan dari-Nya, dan akan kepada-Nya. Dan Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali kebaikan, Dia adalah llah (yang berhak diibadahi) dan Rabb-nya orang-orang yang baik. Dan tetangga-Nya di negeri kemuliaan-Nya adalah orang-orang yang baik.

(SEBAIK-BAIK KALIMAT SETELAH AL QURAN)

Maka perhatikanlah kalimat-kalimat yang terbaik setelah Al Quran, bagaimana kalimat-kalimat tersebut tidak layak diberikan kecuali hanya kepada Allah [Yaitu], ”subhaanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu Allahu akbar wala haula wala quwwata illa billaah”.

Maka sesungguhnya [kalimat] subhaanallahitu mengandung pensucian terhadap Allah dari segala kekurangan, aib dan kejelekan yang merupakan kekhususan bagi para makhluk dan mengandung pensucian dari keserupaan Allah dengan makhluk. Dan [kalimat] alhamdulillah itu mengandung penetapan semua kesempurnaan -semenjak dahulu [tanpa ada awalannya] dan selamanya- bagi Allah baik di dalam ucapan, perbuatan maupun di dalam sifat-Nya dengan sisi penetapan yang paling sempurna. Dan [kalimat] laa ilaaha illallaah mengandung keesaan Allah di dalam uluhiah-Nya. Dan semua yang diibadahi selain Allah adalah batil, dan Dia-lah satu-satunya Ilah Yang Hak, dan barangsiapa yang menjadikan llah selain-Nya, maka dia seperti orang yang menjadikan sebuah rumah dari rumah-rumah laba-laba yang dipakainya untuk berlindung dan berteduh di dalamnya dari panas dan dingin, maka apakah rumahnya tersebut dapat memberikan manfaat kepadanya sedikit saja? Dan [kalimat] Allahu akbar itu mengandung makna bahwa Dia adalah yang paling besar daripada segala sesuatu, yang paling mulia, yang paling agung, yang paling perkasa, yang paling kuat, yang paling mampu untuk mencegah, yang paling berkuasa, yang paling mengetahui dan yang paling bijaksana. Maka kalimat ini dan makna-maknanya tidaklah layak kecuali hanya bagi Allah semata.

(PERIBADATAN SALAM KEPADA PARA NABI DAN ORANG-ORANG YANG SHALIH)

Kemudian disyariatkan baginya untuk memberikan salam -kepada seluruh hamba-Nya yang shalih, dan mereka adalah para hamba-Nya yang terpilih- setelah memuji-Nya dan mengulang pujian kepada Allah. Maka yang demikian itu sesuai dengan firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya…’” (An Naml: 59)

Dan seolah-olah mendahulukan bacaan alhamdulillah sebelum mengucapkan salam [pada tahiyyat] merupakan pengamalan dari firman Allah tadi. Dan juga, karena sesungguhnya tahiyyat ini adalah tahiyyat bagi makhluk, maka disyariatkan untuk dibaca setelah tahiyyat bagi Khaliq (Pencipta). Dan pada tahiyyat -bagi makhluk- ini, didahulukanlah manusia yang paling utama untuk mendapatkan tahiyyat ini, dan dia adalah Nabi yang umatnya memperoleh setiap kebaikan melalui tangannya. Kemudian tahiyyat untuk dirinya dan yang setelahnya dan untuk seluruh hamba-Nya yang shalih, terkhusus para nabi dan para malaikat, kemudian para sahabatnya, para pengikut nabi, juga tahiyyat ini secara umum untuk setiap hamba yang shalih yang berada di langit dan di bumi.

Kemudian disyariatkan baginya setelah [membaca] tahiyyat ini untuk mengucapkan salam kepada yang berhak untuk mendapatkannya baik secara khusus ataupun umum.

(MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT YANG ADA PADA TAHIYYAT)

Kemudian disyariatkan baginya untuk ber-tasyahhud dengan tasyahhud yang hak (dua kalimat syahadat) yang shalat itu dibangun di atasnya, dan yang shalat itu merupakan hak (tuntutan) dari syahadat. Dan shalat tidak dapat memberikan manfaat kepada seseorang kecuali kalau disertai dengan syahadat. Dan syahadat itu adalah mempersaksikan Rasul dengan [kebenaran] risalahnya. Dan shalat itu ditutup dengan syahadat tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, “Maka jika kamu telah membaca syahadat, maka sungguh kamu telah menyelesaikan shalatmu, maka jika kamu ingin bangkit, maka bangkitlah, dan jika kamu ingin untuk duduk, maka duduklah.”

Dan ucapan Ibnu Masu’d ini dapat dimaknakan dengan selesainya shalat secara hakiki, ketika dia telah selesai membaca tasyahhud, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Kufah. Dan dapat pula ucapan dimaknakan dengan kedekatan dan hampir selesainya shalat, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Hijaz dan yang lainnya. Dan atas dasar dua pentakdiran [makna] tadi, maka dijadikan syahadat yang hak itu sebagai penutup dari shalat, sebagaimana syahadat itu disyariat untuk dijadikan sebagai penutup dari kehidupan.

“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah laailaahaillallaah, maka ia masuk jannah.” [1]

Dan demikian pula disyariatkan bagi orang yang berwudhu untuk mengakhiri wudhunya dengan membaca dua kalimat syahadat. Kemudian ketika dia hendak menyelesaikan shalatnya, maka dizinkan baginya untuk meminta hajatnya.

Dan disyariatkan baginya sebelum meminta hajat untuk ber-tawassul (mengambil perantara), yaitu dengan mengucapkan shalawat kepada Nabi, karena sesungguhnya shalawat tersebut merupakan wasilah (perantara) yang paling agung sebelum dia berdoa, sebagaimana di dalam As Sunan dari Fudhalah bin Ubaid, bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaklah ia memulainya dengan memuji Allah dan mengulang pujian kepada-Nya, kemudian bershalawat kepada Rasul, setelah itu barulah dia meminta hajatnya.”

Kemudian doa itu dijadikan sebagai akhir dari shalatnya, seolah doa itu merupakan stempel bagi shalat.

Sehingga [urutan] tahiyyat itu berdasarkan penjelasan tersebut: yang pertama adalah memuji Allah, kemudian mengulang pujian kepada-Nya, kemudian bershalawat kepada Rasul-Nya, kemudian doa di akhir shalat, dan Nabi mengizinkan bagi orang yang shalat setelah dia bershalawat kepadanya untuk memilih doa yang diinginkannya.

(SUNNAH-SUNNAH ADZAN YANG LIMA)

Dan yang serupa dengan ini (tahiyyat di dalam urutannya) adalah pensyariatan bagi orang yang mendengar adzan agar dia mengucapkan apa yang diucapkan oleh muadzin, kemudian dia berdoa,

“Saya ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai seorang Rasul” [1]

Kemudian dia meminta kepada Allah wasilah dan keutamaan bagi Rasul-Nya dan agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji,[2] kemudian bershalawat kepada beliau,[3] kemudian menyebutkan hajatnya.[4] Maka ini adalah lima sunnah di dalam menjawab muadzin yang tidak seyogyanya untuk dilupakan.

(RAHASIA SHALAT ITU ADALAH MENGHADAP KEPADA ALLAH)

Rahasia dan ruh serta inti dari shalat itu adalah menghadapnya seorang hamba -di dalam shalat- kepada Allah dengan sepenuh jiwa raganya. Maka sebagaimana tidak seyogyanya -di dalam shalat- bagi hamba untuk memalingkan wajahnya dari kiblat kepada selainnya, maka demikian pula tidak seyogyanya dia memalingkan hatinya dari Rabb-nya kepada selain-Nya. Bahkan hendaknya dia menjadikan Ka’bah -yaitu rumah Allah- sebagai kiblat bagi wajah badannya dan menjadikan Rabbul bait (Pemilik Ka’bah) Yang Maha Barakah dan Maha Tinggi sebagai kiblat bagi hati dan ruhnya. Menghadapnya Allah kepada seorang hamba di dalam shalatnya itu adalah sesuai dengan menghadapnya hamba tersebut kepada Allah. Sehingga jika hamba itu berpaling dari Allah, maka Allah akan berpaling darinya. Dan sebagaimana seorang hamba itu berbuat, maka dia akan dibalasi sesuai dengan perbuatannya itu.

(MENGHADAP KEPADA ALLAH DI DALAM SHALAT ITU ADA TIGA TINGKATAN)

  • Seorang hamba memperhatikan/menghadap kepada hatinya, sehingga menjaga dan memperbaiki dirinya dari penyakit-penyakit syahwat, was-was dan bahaya-bahaya yang dapat membatalkan atau mengurangi (pahala) shalatnya.
  • Yang kedua adalah menghadapnya hamba kepada Allah dengan dia merasa diawasi oleh Allah, sehingga dia beribadah kepada-Nya seolah-olah dia melihat-Nya.
  • Dan yang ketiga adalah menghadapnya hamba kepada makna-makna dari firman Allah, perincian dari firman-Nya dan kandungan makna dari peribadatan shalat agar dia dapat memberikan hak dari shalat berupa khusyu’ dan tumaninah serta yang lainnya.

Dan dengan seorang hamba menyempurnakan tiga tingkatan di dalam menghadap kepada Allah ini, maka sungguh dia telah menegakkan shalat dengan sebenar-benarnya. Dan menghadapnya Allah kepada hamba adalah sesuai dengan menghadapnya hamba kepada Allah.

 

(BAGAIMANA CARA MENGHADAP KEPADA ALLAH PADA SETIAP BAGIAN SHALAT)

Jika seorang hamba berdiri tegak menghadap Allah, maka dia sedang menghadap kepada qayyuumiyah-Nya[1] dan kemuliaan-Nya, sehingga janganlah dia menengok ke kanan dan ke kiri.

Dan jika dia mengucapkan takbir, maka dia sedang menghadap kepada kesombongan, kemuliaan dan keagungan-Nya. Dan menghadap kepada Allah di dalam istiftah adalah dengan menghadap kepada kesucian-Nya, pujian-pujian kemuliaan wajah-Nya, kesucian-Nya dari apa-apa yang tidak layak bagi-Nya dan memuji-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dan jika dia membaca isti’adzah[2], maka dia menghadap kepada perlindungan-Nya yang sangat kuat, kekuatan-Nya, pertolongan-Nya bagi hamba, penolakan-Nya dari syetan dan penjagaan-Nya dari musuhnya. Dan jika dia membaca firman-Nya, maka dia menghadap kepada pengenalan terhadap firman-Nya, seolah-olah dia melihat dan menyaksikan Allah pada firman-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salaf, “Sungguh Allah telah menampakkan diri-Nya pada firman-Nya.”

Manusia di dalam permasalahan membaca firman Allah terbagi menjadi beberapa golongan. Jjuga di dalam permasalahan ini mereka memiliki kecenderungan-kecenderungan dan rasa-rasa (yang masing-masingnya berbeda). Ketika membaca Al Qur’an, di antara mereka ada yang dapat melihat, ada yang bermata satu, ada yang tuli, ada yang kabur penglihatannya, dan yang lainnya. Maka seyogyanya pada keadaan ini manusia menghadap kepada Dzat Allah, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan, perintah, larangan, hukum-hukum dan nama-nama-Nya. Dan jika dia ruku’ maka (hendaknya) dia menghadap kepada keagungan, kemuliaan, keperkasaan dan kesombongan-Nya. Oleh karena itu disyariatkan baginya untuk membaca, “Subhana rabbiyal ‘azhiim” (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung). Dan jika dia mengangkat kepalanya dari ruku’, maka dia menghadap kepada pujian-Nya, sanjungan, pemuliaan dan peribadatannya bagi Allah, dan keesaan-Nya di dalam memberi dan menahan. Dan apabila dia sujud, maka dia menghadap kepada kedekatan dan ketundukan kepada-Nya, kerendahan dirinya, kebutuhnya kepada-Nya, kelemahannya di hadapan-Nya dan kebutuhannya akan perhatian-Nya.

Dan manakala dia mengangkat kepalanya dari sujud, kemudian dia berlutut, maka dia menghadap kepada kekayaan-Nya, kedermawanan-Nya, kemuliaan-Nya, dan kebutuhan dirinya yang sangat mendesak (akan kekayaan, kedermawanan dan kemuliaan-Nya), kerendahan dan kelemahan dirinya di hadapan-Nya, agar Dia mengampuni dirinya, memberinya rahmat dan kesehatan, menunjukinya dan memberinya rizki.

Dan ketika dia duduk untuk bertasyahhud, maka dia berada pada suatu keadaan dan penghadapan yang lain yang menyerupai keadaan haji pada thawaf wada’. Dan hatinya merasa akan meninggalkan Rabb-nya menuju kesibukan-kesibukan dunia, ikatan-ikatan dunia dan perkara-perkara yang menyibukkan dirinya, yang semua itu diputus dari dirinya dengan berdiri (shalat) di hadapan-Nya. Dan sungguh hatinya merasakan sakit dan siksa -karena semua perkara-perkara tersebut- sebelum dirinya masuk kedalam peribadatan shalat. Sehingga (ketika dirinya telah masuk ke dalam peribadatan shalat) maka hatinya merasakan, ruh kedekatan dengan-Nya, kenikmatan menghadap kepada-Nya, pemaafan-Nya terhadap dirinya dari semua perkara tadi, terputusnya perkara-perkara tadi dari dirinya selama dirinya shalat. Tapi kemudian hatinya merasa akan kembali kepada perkara-perkara tadi dengan selesainya shalat, sehingga dia merasa sedih dengan berakhir dan selesainya shalat, seraya dia mengatakan, ’’Aduhai kiranya shalat ini berketerusan hingga hari pertemuan (dengan-Nya)”

Dan dirinya mengerti bahwa sesungguhnya (dengan selesainya shalat) dirinya akan bepaling dari bermunajat kepada Dzat yang dengan bermunajat kepada-Nya diperolehlah seluruh kebaikan, kepada bermunajat dengan sesuatu yang dengan bermunajat kepadanya diperolehlah gangguan, kesedihan serta kesusahan. Dan tidak dapat merasakan dua hal ini kecuali orang yang hatinya dipenuhi dengan dzikir kepada Allah, kecintaan kepada-Nya dan kedamaian dengan-Nya, dan kecuali oleh orang yang mengetahui apa yang dihasilkan dengan bermunajat dengan makhluk dan dengan melihat mereka, mengetahui apa diperoleh dengan bergaul dengan mereka berupa gangguan, kesusahan, kesempitandada,kegelapanhati, terluputnyakebaikan-kebaikan, diperbuatnya kejelekan-kejelekan dan mengacaukan pikiran dari bermunajat kepada Allah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia.

(PEMBICARAAN SEPUTAR SALAM)

Dan dikarenakan hamba itu berada di antara dua perkara yang datang dari Rabbnya, yaitu:

  1. Hukum Rabb-nya atas dirinya di semua keadaannya baik yang lahir maupun batin, dan tuntutan dari hukum Rabb-Nya berupa penegakan peribadatan yang ada pada hukum-Nya, karena sesungguhnya setiap hukum (dari hukum-Nya) memiliki peribadatan yang khusus, yang saya maksud dengan hukum di sini adalah hukum-Nya yang bersifat kauni (terkait dengan alam) dan qadari (terkait dengan takdir);
  2. Perbuatan yang dilakukan oleh hamba sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya, dan ini menuntut adanya hukum-hukum-Nya yang bersifat keagamaan dan perintah.

Maka kedua perkara ini mengharuskan hamba tersebut untuk tasliimun nafs (memasrahkan jiwa) kepada Allah. Oleh karena itu nama Islam diambil dari at tasliim. Karena sesungguhnya manakala seorang hamba pasrah terhadap hukum Rabb-nya baik yang bersifat keagamaan dan perintah mau pun yang yang bersifat kauni dan qadari, yaitu dengan dia menegakkan peribadatan kepada-Nya di dalam hukum tersebut, tidak dengan membiarkan dirinya dengan hukum tersebut tenggelam di dalam hawa nafsunya, syahwat, kemaksiatan, dan dia mengatakan, “Telah ditakdirkan atasku.” Maka [di saat itu] dia berhak untuk mendapatkan nama Islam, sehingga dikatakan kepadanya: seorang muslim.

____________________________

[Dari: Asraarush Shalaah; Penulis: Syaikhul Islam Ibnul Qayim Al Jauziah; Penyunting: Syaikh Iyaadh Al Qaisi; Edisi Indonesia: Tamasya Indah Seputar Shalat Menyibak Rahasia Keindahan, Keagungan dan Urgensi Shalat; Penerjemah: Ustadz Abdul Hamid Al Mujuri; Penerbit: el Fouz Publishing]

Posted on Desember 3, 2012, in Rahasia Shalat. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. syukron ilmunya akhi,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: